Peningkatan Aksesibilitas, Fokus Pengembangan Pariwisata Buleleng

Peningkatan Aksesibilitas, Fokus Pengembangan Pariwisata Buleleng

Peningkatan aksesibilitas di Kabupaten Buleleng masih menjadi fokus untuk dilakukan dalam rangka pengembangan pariwisata. “Saya lihat dari sisi geografis Buleleng ini ada batas bukit dari ujung timur ke barat. Kalau ke Buleleng akan melewati jalan yang berliku. Badung punya bandara, kita tidak punya. Semua harus melewati batas ini yang banyak menyebabkan orang mabuk lewat sana, sehingga yang akan kita perbaiki aksesibilitas dan tetap menjadi fokus,” ujar Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat memberikan keterangan terkait pengembangan pariwisata, Selasa (8/6).

Agus Suradnyana menjelaskan, tipe wisatawan berbeda dengan daerah lainnya. Wisatawan yang datang ke Buleleng adalah wisatawan yang long stay atau tinggalnya lama. Otomatis para wisatawan menghabiskan waktu dan materinya lebih banyak di Buleleng. Jika dibandingkan dengan daerah lain, seperti Kabupaten Badung, wisatawan biasanya datang hanya untuk dua atau tiga hari. Jika mencari ketenangan atau keindahan alam di Buleleng. “Oleh karena itu, aksesibilitas menjadi hal yang sangat penting untuk ditingkatkan. Upaya yang maksimal juga sudah dilakukan. Termasuk kolaborasi dengan berbagai pihak seperti pembangunan shortcut Singaraja-Mengwitani,” bebernya.

Pembangunan shortcut tersebut dapat menghilangkan batas bukit dengan jalan berliku menuju Buleleng. Ada jalan yang dibuat tikungannya lebih sedikit. “Sampai saat ini, baru ada empat titik selesai. Dua di Kabupaten Tabanan dan dua di Kabupaten Buleleng. Sebanyak sepuluh titik dianggarkan. Tahun 2021 ini ada dua titik lagi yang dibangun di Buleleng. Di samping sebagai aksesibilitas jalan, dia akan menjadi objek wisata juga. Karena pemandangannya indah dari atas,” jelasnya.

Buleleng memiliki pariwisata yang luar biasa. Berbeda dengan Bali bagian selatan. Alam dan topografinya yang membuat berbeda. Buleleng sering disebut dengan Nyegara Gunung, dimana antara gunung dan lautnya tidak terlalu jauh. Untuk mencari pengalaman ataupun suhu yang berbeda hanya berjarak 10 kilometer. Jika wisatawan ingin suasana yang sejuk bisa. Ketika ingin menuju pantai juga tidak jauh. Sehingga suhu yang dirasakan langsung berbeda hanya dengan menempuh jarak 10 kilometer saja. “Buleleng memiliki garis pantai terpanjang di Bali yaitu 157 kilometer. Pelestarian terumbu karang dan tempat menyelam kita bagus. Dari Tejakula ke Bondalem, Les, Lovina, Pemuteran. Itu tempat penyelaman favorit di Buleleng,” ucapnya.

Agus Suradnyana menambahkan, ada keyakinan dalam dirinya jika aksesibilitas ke Buleleng sudah mendukung dan menuju Buleleng lebih mudah. Dalam sepuluh tahun ke depan Buleleng akan menjadi salah satu pilihan terdepan destinasi wisata di Bali. Apalagi ditambah dengan adanya bandara baru di Buleleng. Itu akan menjadikan daya pendukung untuk pengembangan pariwisata di Buleleng. “Tentunya dengan penataan ruang yang baik. Sistem organik dalam pertanian untuk menunjang pariwisata juga diterapkan,” tutup dia. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us