Perkakas Petani itu Benar Benar Sudah Masuk Museum

Perkakas Petani itu Benar Benar Sudah Masuk Museum

Tahu Jineng? Bangunan tradisional Bali yang bentuknya seperti panggung itu sebagai tempat menyuimpan padi. Nama tempat menyimpan padi ini, ada berbagai macam, seperti jineng, lumbung, klumpu, gelebeg dan kelingking. Bentuknya hampir mirip, tetapi tiap nama itu ada sedikit perbedaannya. Masyarakat di Tabanan dan Bali umumnya, banyak yang sudah tidak mempergunakan jineng lagi. “Itulah alasan kami mengkaji Jineng. Salah bangunan tardisional Bali ini bukian hanya sebagai pajangan saja, melainkan memiliki fungsi penting dalam kehidpan masyarakat,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Subak, Ida Ayu Nyoman Ratna Pawitrani, Jumat (27/11).

Berdasarkan hasil kajianj itu, alasan masyarakat tidak membangun jineng karena petani sudah menggunakan padi paritas baru, bukan padi katik, asli Bali. Ketika di panen dengan arit (sabit), maka langsung padi itu cepat rontok. Nah, untuk menyimpan di dalam jineng agak susah, karena sudah dibukus dengan kampil. “Dulu, para vpetani di Tabanan itu masih menanam padi rasitas local, yaitu padi tangkai mekatik (tangkai) sehingga ada banyak proses untuk bisa disimpan diatas Jineng,” papar wanita yang selalu enerjik ini.

Sekarang itu, Jineng hanya sebagai simbol saja. Di dalam jineng ada padi mekatik atau padi sigihan itu hanya untuk kebutuhan upacara saja. Bahkan ada masyarakat yang tidak membangun jineng karena memiliki lahan yang sempit. “Berbeda dengan di Desa Wayangaya Gede itu, Jineng memang dilestarikan. Jineng melangkapi bangunjan lainnya dalam satu rumah. Bahkan, di masing-masing Kepala Keluarga (KK) memiliki satu Jineng. Ketika ada 5 KK dalam satu rumah, maka ada 5 jineng berderet di rumah itu. Usia jineng itu bahkan ada yang lebih dari 50 tahun,” terang Ratna Pawitrani.

Selain sebagai tempat menyimpan padi, jineng juga berfungsi sebagai status social. Jineng pada jaman dahulu sampai sekarang menunjukan status social. Jika jineng itu memiliki saka (tiang) enam maka itu artinya pemilik jineng memiliki sawah yang luas. Sekarang pun sama. Seseorang mempunyai jineng status sosialnya pasti tinggi. Walau tidak difungsikan sebagai tempat menyimpan padi, tetapi orang itu tetap menempakatakan jineng sebagai pelengkap bangunan yang ada. “Kami akan selalu mengkaji koleksi-koleksi yang ada di Museum Subak satu demi satu. Termasuk koleksi museum yang tidak dipergunkan lagi oleh para petani,” ungkapnya.

Ratna Pawitrani mengatakan, dari jumlah koleksi museum yang ada, sebagain besar sudah tidak lagi dipergunkan oleh para petani di Tabanan dan Bali umumnya. Sebut saja anggapan, alat memotong padi dengan bahan kayu dan besi. Penatapan sebuah alat untuk meratakan atau merapikan ikatan padi, pengeretan tali sebuah alat berbaha kayu untuk mengencangkan tali ikatan padi, sanan sebuah tiang dari bambu untuk memikul padi, ketungan sebuah alat untuk menumbuk padi menjadi beras, suah bulih untuk merapikan padi, dan penyebitan bulih. “Semua itu kita simpan di museum, sebab di masyarakat tidak ndipergunakan lagi,” beber Ratna Pawitrani seraya menambhakan untuk tahun depan Museum Subak akan mengkaji koleksi yang mengarah pada tradisi ritual terkait pertanian. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us