Permainan Tradisional Megandu Diusulkan Masuk WBTB

Permainan Tradisional Megandu Diusulkan Masuk WBTB

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Bali mengusulkan permainan tradisional Megandu agar masuk Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Sebelumnya Megandu sudah didaftarkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) oleh Mahasiwa Fakultas Hukum Universitas Udayana (FH Unud). “Permainan tradisional Megandu penting untuk didaftarkan WBTB,” kata Peneliti Ahli Madya BPNB Provinsi Bali, Nuryahman pada kegiatan Forum Group Discussion (FGD) di Balai Subak Sangawang Desa Adat Ole, Jumat (4/5).

Dalam FGD yang dihadiri Perangkat Desa Adat Ole, Pegiat Seni, Peneliti Megandu, dan perwakilan mahasiswa FH Unud itu, Nuryahman memaparkan, saat ini WBTB di Kabupaten Tabanan masih minim dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Bali. “Melalui FGD ini, kami menggali nilai-nilai yang ada dalam Megandu untuk diusulkan menjadi WBTB, termasuk dilengkapi dengan peremakan permainan itu sendiri,” ungkapnya.

Ketua Sanggar Wintang Rare, I Wayan Weda mengatakan, selaku pelestari permainan agragris ini, pihaknya mendukung upaya BPNB Provinsi Bali dalam mengajukan sebagai WBTB. Permainan tradisional Megandu sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan karena sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang anak-anak. Megandu merupakan warisan budaya yang sangat bermanfaat bagi anak-anak, terutama perkembangan mental, disiplin, serta mengandung unsur kepemimpinan,” ungkapnya.

Sastrawan I Made Adnyana Ole memaparkan, permainan megandu itu tak hanya memiliki nilai pendidikan, gotong royong dan kejujuran, tetapi juga memiliki nilai persaingan dalam kebersamaan. Nilai ini yang jarang ada dalam permainan tradisional. Megandu merupakan permaian agraris karena semua alat dan prasarananya itu ada di sawah. “Megandu itu berbeda dengan kesenian tardisional lainnya,” ucapnya.

Permainan itu secara tidak langsung mengajar tentang kehidupan hewan di alam liar. Misalnya, bagaimana usaha seekor burung mempertahankan telurnya dari serangan para predator. Burung itu harus berputar melingkari sarangnya yang bulat, dengan tangkas dan lincah, agar predator tak mendapatkan telurnya. Jarang permainan tradisional berisi sangsi. Biasanya hanya berisi kalah dan menang.

Dalam permainan modern kini, banyak dikenal jenis sangsi, misalnya menyanyi, bergoyang dan sejenisnya. “Nah dalam pegandu ada sangsi yang tentu saja tak menyakitkan, malah justru membuat suasana permainan menjadi lebih bergairah. Sangsinya adalah melemparkan bola jerami, dan kadang ada kreatifitas, di mana bola jerami diisi lumpur. Tentu saja sangsinya tak bikin cidera,” paparnya.

Mahasiswa FH Unud, Kadek Mahesa Gunadi sangat mendukung pengusulan permainan tradisional Megandu sebagai WBTB. Karena itu, ia menyerahkan kajian mengenai pentingnya perlindungan dan pengembangan permainan tradisional Megandu. Inti dari kajiannya itu, meminta Pemerintah Daerah agar peduli terhadap pegiat seni di Desa Adat Ole yang telah berkontribusi terhadap pemajuan kebudayaan khususnya permainan tradisional Megandu.

Para pegiat seni di Desa Adat Ole sangat layak diberikan penghargaan karena telah puluhan tahun konsisten menjaga warisan budaya yang ada. Para pegiat seni di Desa Adat Ole tidak mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah. “Penghargaan ini sangat layak diberikan karena mereka sudah puluhan tahun konsisten mengembangkan warisan budaya permainan Megandu tanpa menerima uang sepeserpun. Pemberian penghargaan ini diatur dalam Pasal 50 Ayat (1) UU No 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan,” tutupnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us