Peserta “Wimbakara Pidarta Basa Bali” Kupas Tema PKB XLIII

Peserta “Wimbakara Pidarta Basa Bali” Kupas Tema PKB XLIII

Siapa bilang anak-anak muda enggan berbahasa Bali yang baik dan benar. Lihat saja dalam Wimbakara (Lomba) PidartaBasa Bali dalam ajang Pesta kesenian Bali (PKB) XLIII yang digelar di Gedung Citta Kelangen ISI Denpasar, Kamis (17/6), para generasi muda setingkat SMA ini tampak pasih berbahasa Bali. Mereka tak hanya menggunakan bahasa Bali sor singgih, tetapi juga bahasa kawi yang dikenal wayah. Mereka berbixara lugas memaparkan keberadaan hutan yang mengkhawtirkan, mengkritik sekaligus memberi solusi. Maka tak heran, setiap peserta yang tampil, mampu membuat decak kagum penonton yang terbatas karena pandemi.

Wimbakara Pidarta Basa Bali kali ini, diikuti oleh 10 peserta merupakan perwakilan dari kabupaten dan kota di Bali, dan peserta umum. Artinya, ada beberapa kabupaten yang tidak mengikuti, sehingga dilengkapi dengan peserta tanpa mewakili daerahnya. Masing-masing peserta memaparkan materi yang mengacu pada tema PKB yaitu “Purna Jiwa : Prananing Wana Kerthi: Jiwa Paripurna Napas Pohon Kehidupan”. Mereka menerima topik dari panitia, lalu mengolah untuk sebuah materi, kemudian disampaikan kepada dewan juri dan penonton.

Dewa Juri, Dr I Nyoman Sukarta M.Hum mengakui penampilan peserta Pidarta Basa Bali kali ini jauh lebih bagus jika dibandingkan pada peserta lomba tahun sebelumnya. Para peserta memakai Bahasa Bali yang sudah menggunakan pola pikir Bahasa Bali. Kalua dulu, hampir semua peserta memakai pola Bahasa Indonesia yang di Bali-kan. Banyak juga yang menggunakan bahasa kawi, bahasa wayah. “Banyak lagi hal-hal kemajuan yang dicapai peserta kali ini yang membuat juri semakin sulit untuk memberikan penilaian,” jelasnya.

Walau demikian, jelas Dosen Jurusan Bahasa Kawi Fakulas Ilmu Budaya Unud ini ada beberapa peserta yang masih menggunakan Bahasa Indonesia yang sebenarnya bisa diganti dengan Bahasa Bali. Ia lalu mencontohkan paru-paru bumi yang mestinya bisa diganti dengan peparun jagat atau peparun gumi. Sebab paru-paru itu ada dalam usada yang disebutkan peparu. “Pada umumnya, peserta lomba Pidarta Baha Bali sekarang jauh lebih bagus dari pada yang dulu. Dari penampilan semunya bagus berbusana adat Bali, tema yang didigunakan sesuai dengan tema PKB dan semuanya mengacu pada kreteria,” tegasnya.

Penguasaan materi, hampir semuanya menguasai yang ditandai dari pemaparannya. Walau ada beberapa yang terlihat tegang dan grodi. Bahasanya sangat bagus dan amanat (pesan) yang disampaikan tampak sangat jelas. Hanya saja, karena disini temanya satu jenis, maka hampir amanat mereka sama. Namun yang paling penting dari semua itu menguasai materi. Ada peserta yang mengauasai materi, hingga ke mimiknya, penjiwaannya kuat. Menariknya, ada beberapa peserta yang langsung memberi solusi. “Itulah yang seharusnya, peserta juga memberisi solusi, bukan hanya mengkritik. Secara tersurat semuanya sudah ada saran, pesan terutama pesan moral,” tutup Sukarta senang. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us