PPKM Level 4 Masih Berlanjut, Pengelola Hotel Hanya Menunggu Waktu “Close”

PPKM Level 4 Masih Berlanjut, Pengelola Hotel Hanya Menunggu Waktu “Close”

Uji coba dibukanya Daya Tarik Wisata (DTW) alam, budaya, buatan, spiritual, dan desa wisata menjadi berita yang sangat menyenangkan bagi pengtelola DTW di Bali. Lalu, bagaimana dengan nasib pengelola hotel? Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk semua kabupaten kota di Bali masih berstatus Level 4, sehingga belum ada tanda-tanda pergerakan wisatawan ke Pulau Bali. “Dampak PPKM Level 4 terhadap pengelolaan hotel kami, sangat mengkawatirkan. Saya kira sama dengan hotel-hotel yang lainnya,” kata Resort Manager Pramana Desa Swan Keramas, I Nyoman Redana, Senin (13/9).

Nyoman Redana mengaku bingung dengan status level 4 yang disandang Bali tidak kunjung turun. Semua kabupaten dan kota di Bali masih berstatus level 4, dan itu merupakan berita yang sangat menyedihkan dan patut disayangkan. Dari awal pandemic, pemerintah pusat sangat mengapresiasi penanganan Covid-19 dengan basis Desa Adat, bahkan saat PPKM terakhir Gubernur Bali mendapatkan piagam apresiasi sebagai salah satu daerah penanganan pandemic terbaik di Indonesia.

Karena itu, semua pihak sangat mengapresiasi masyarakat Bali patuh dengan himbauan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah dengan selalu menerapkan Protocol Kesehatan (Prokes). Namun, terdenger berita yang menyebabkan Bali masih ada di PPKM level 4 karena ratio kematian sangat tinggi. Sementara disisi lain, ada berita yang menyebutkan ada salah satu pasien yang dinyatakan sembuh justru dimasukan ke pasien yang meninggal. “Data ini menjadi simpang siur. Saya rasa hal-hal seperti ini yang harus segera diperbaiki oleh pemerintah daerah, sehingga data bisa lebih akurat dan valid. Apalagi dengan adanya bantuan dari pemerintah pusat untuk pencatatan data,” ucapnya.

Selaku insan pariwisata, Nyoman Redana berharap, dengan mati surinya pariwisata Bali yang sudah dua tahun ini, maka pemerintah daerah Bali kususnya harus berani mengambil suatu tindakan dan kebijaksanaan yang tepat dan terukur, karena hampir 80% perekonomian Bali sangat tergantung dari pariwisata. “Ada kata bijak yang mengatakan “kalau tidak dicoba maka kita tidak akan tahu”. Tentu semua kebijaksanaan akan ada resikonya. Kita juga tidak hanya bisa terpaku pada masalah pandemic saja, tetapi masyarakat menjerit untuk mengisi perut mereka tanpa ada bantuan yang yang merata,” ujarnya.

Masyarakat di Bali sudah di vaksin 90% dan saat ini mungkin pelaku pariwisata sudah 100% divaksin. Penerapan prokes dilaksanakan secara ketat, lalu apa yang harus dikhawatirkan lagi. “Kalau Jakarta bisa sebagai tempat karantina bagi Warga negara Indonesia (WNI) atau Warga negara Asing (WNA) yang datang dari luar negeri kenapa, Bali tidak? Satu-satunya cara menyelamatkan Bali saat ini adalah domestic ataupun International airport harus segera dibuka dengan penerapan prokes ketat, dan bisa mulai dari negara-negara yang dinyatakan rendah resiko,” paparnya.

Pria penuh enerjik ini mengaku, resort yang dikelolanya itu mempunyai sekitar 50 staff yang sebagian besar merupakan warga local yang setiap bulannya hanya bekerja 7 hari sampai 10 hari karena tingkat hunian yang masih sangat minim. Berbagai uasaha juga sudah dilakukan untuk menarik minat tamu untuk tinggal di villa yang biasanya ramai pada saat weekend saja. Sebut saja dengan meluncurkan staycation, day use package, birthday packages dan family gathering package. Namun, semua usaha itu gagal karena dihadang PPKM Level 4 yang masih kokoh bertengger. “Kalau pemerintah tidak segera mengambil tindakan dan kebijaksanaan yang tepat dan terukur, saya kira kami hanya menunggu waktu untuk close juga,” ucapnya pasrah.

Pramana Desa Swan Keramas memiliki 25 unit private villa dengan total jumlah kamar 75 kamar. Setiap unit villa, mulai dari one bedroom villa sampai four bedroom villa dilengkapi dengan private pool, garden yang luas, living room dan kitchenette dengan penerapan prokes yang sangat ketat. Semua tamu yang menginap di villa ini merasa nyaman dan aman. “Buktinya, ketika Bali masih tinggi-tinggi angka penyebaran Covid-19 awal pandemic lalu, villa kami direkomendasikan sebagai tempat karantina mandiri,” ungkapnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us