Prosesi Pelebon Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung

Prosesi  Pelebon Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung

Setelah prosesi awal yang dilakukan di Griya Keniten, upacara palebon  Ida Padenda Nabe Gede Dwija Ngenjung, sulinggih dari Griya Keniten, Desa Sanur Kaja, Kecamatan Denpasar Selatan, dilakukan tepat tenah hari di tempat pebasmian (tempat pembakaran jenazah) di sekitar Pantai Matahai Terbit, Sanur, pada Sukra Paing Gumbreg, Jumat (8/10) .

Prosesi pelebon yang disertai pengarakan sarana lembu putih dan padmasana diawasi langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Putra ketiga Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, mengatakan kedatangan pihak Kemenkes untuk mengawasi langsung penerapan protokol kesehatan saat prosesi palebon, terutama ritual pengarakan lembu putih dan padmasana menuju Setra Desa Adat Sanur.

Jalan bypass sudah ditutup. Terutama di perempatan menuju ke Pantai Bali Beach sanur. Masyarakat umum tidak begitu banyak yang menonton, kecuali para krama Bali pengayah. Kalau tidak dalam suasana Covid-19, tentu diyakakini ritual keagamaan ini akan menjadis ebuah event akbar pariwisata yang menjadi tontonan budaya bagi para turis local, domestic maupun mancanegara.

Di tunon (Pebasmian, tempat pembakaran) sudah terlebih dulu ditempatkan tragtag (semaam tangga) untuk menurunkan jenazah dari bade. Ritual ini akan diawali  prosesi  ini, pengarakan lembu putih setinggi 10 meter dan padmasana setinggi 16 meter ini  potensial memicu kerumunan, karena akan jadi tontonan warga. Lanjut Partha Adnyana yang juga Ketua GIPI serta Bali Tourism Board, saat  ngalelet dilakukan swab antigen. Saat hari “H” juga, dilakukan swab antigen.Upacara besar ini juga akan menjadi contoh penerapan protocol kesehatan. Kalau  dijalankan secara benar maka akan menjadi semacam contoh. Baik buat Bali ke depannya. Pandemi ini belum selesai, maka mesti taat prokes. Berapa panitia inti, berapa yang boleh dating dan sebagainya, Ini yang mesti dihitung serta dicermati.

Pengarakan lembu putih dan padmasana hanya melibatkan puluhan krama. Maka, disiasati dengan pakai roda. Jika tanpa roda, lembu setinggi 10 meter dan padmasana setinggi 16 meter tersebut dipastikan memerlukan tenaga ratusan orang. Namun, dengan pemasangan roda, tenaga yang diperlukan bisa dikurangi jadi sepertiga saja. Pengarakan dengan roda bukan merupakan hal baru bagi masyarakat Bali. Penerapannya sudah dilakukansudah lama. Terutama dalam acara ritual Pitra Yadnya.

Dalam  prosesi palebon hanya diikuti pihak keluarga inti saja. Sementara masyarakat diharapkan tidak terlalu banyak menonton.  Lanjut Partha, pihak keluarga sudah berkoordinasi dengan kepolisian. Termasuk pengamanan serta penutupan jalan.  Dirharapkan semuanya berjalan lancer dengan protocol kesehatan yang ketat sehingga tidak muncul klaster baru penularan Covid-19.

Palebon Ida Padenda Nabe Gede Dwija Ngenjung sempat direncanakan digelar Agustus 2021 lalu. Namun, karena situasi pandemi Covid-19, maka ditunda dan di putuskan hari jumat 8/10) ini. Ida Pedande Nabe sendiri sebelumnya lebar (meninggal) pada 28 Maret 2021 lalu dalam usia 87 tahun. Serangkaian dengan palebon Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung pada Rabu, (6/10) telah digelar prosesi manah toya ning. Prosesi ini dilaksanakan di Pura Belatri, di kawasan Pantai Matahari Terbit, Sanur. Setelah prosesi manah toya kemudian dilanjutkan dengan prosesi pangaskaraan dan juga ngajum.

Kegiatan ini dimulai sejak pagi yang diawali dengan mapeed atau iring-iringan dari griya menuju ke Pura Belatri. Ratusan pengayah terlibat dalam kegiatan ini dan digelar dengan protokol kesehatan yang ketat. Sebelum  digelar prosesi ini, pada 12 September 2021 lalu telah pula digelar upacara malelet.

Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung  menghembuskan napas terakhir di Griya Gede Keniten, Jalan Hang Tuah Nomor 19 Sanur, 28 Maret 2021. Saat lebar, almarhum didampingi oleh sang istri yakni Ida Pedanda Istri, anak-anak, menantu, dan para cucu. Sulinggih kelahiran 26 Mei 1934 ini berpulang buat selamanya dengan meninggalkan seorang istri dan 4 putra yakni Ida Bagus Ngurah Agung Kumbayana, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, Ida Bagus Agung Partha Adnyana dan Ida Bagus Agung Awatara Putra. Dari keempat putranya itu, almarhum dikaruniai 15 orang cucu.

Menjadi sulinggih sejak 21 September 2009, sewaktu walaka Ida Pedanda Nabe bernama Ida Bagus Tjethana Putra BSc. Dia memiliki peran penting sebagai pioner bidang pariwisata. Sebelum jadi sulinggih, almarhum aktif dalam berbagai organisasi, seperti PHRI Bali, Kadin Bali, PATA Bali, Apindo Bali, dan Lions Club International dan sebagainya. Almarhum sempat menjadi Ketua PHRI Bali 1985-1995 dan Ketua Lions Club Bali 1994-1995.

Sempat bekerja di Hotel Bali Beach (1965-1972), almarhum kemudian merintis usaha Hotel Santrian Beach Cottages (1972) yang menjadi cikal bakal Griya Santrian dan selanjutnya berkembang menjadi lini bisnis pariwisata Santrian Group. Selain Griya Santrian, grup ini juga memiliki Puri Santrian Resort, The Royal Santrian Luxury Beach Villas, dan lainnya. Ida Pedanda Nabe juga menjadi salah satu penggagas berdirinya Yayasan Pembangunan Sanur (YPS). (BTN/ery/foto:eka)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us