Revisi Penerapan PPKM Level 3, Pembatasan Berlebihan Masih Menjadi Kendala

Revisi Penerapan PPKM Level 3, Pembatasan Berlebihan Masih Menjadi Kendala

Revisi aturan pemerintah, yakni Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 yang rencananga diberlakukan dari tanggal 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022 akhirnya dicabut. Artinya, PPKM level 3 menjelang Nataru tidak berlakukan. Hal itu membuat pelaku pariwisata senang, namun tetap merasa tidak plong. “Di satu sisi, kami sangat bersyukur dan berterima kasih karena PPKM level 3 dibatalkan, namun disisi lain masih ada aturan-aturan yang cukup memberatkan wisatawan utamanya mancanegara untuk berwisata ke Bali,” kata Ketua Bali Villa Association (BVA), Putu Gede Hendrawan, Rabu (8/12).

Penerapakan PPKM level berapapun, sesungguhnya cukup mengganggu pemikiran, bahkan membuat psikologis masyarakat utamanya pariwisatya dalam menjalankan usaha pariwisata yang kembali dirintis di Pulau Bali ini. Pemberlakuakn PPKM level berapapun membuat pengusaha pariwisata kurang nyama. “Kami berterima kasih atas pengertian Presidem beserta jajarannya, karena PPKM level 3 dibatalkan atau tidak jadi diberlakukan selama Nataru nanti,” ucapnya penuh syukur.

Meski demikian, sebagai pengelola villa, Hendrawa merasa adanya pembatasan-pembatasan yang dikeluarkan pemerintah itu sedikit menjadi kendala dalam menarik kunjungan wisatawan. Dirinya tetap menghormati aturan itu, karena bagaimanpun semuanya mesti tetap waspada dan antisipasai terhadap penyebaran Covid-19, terurama adanya varian baru. “Karena ini pembatasan bukan berkaitan dengan PPKM level 3, saya rasa pembatasan tersebut tidak terlalu berlebihan. Kami di industry pariwisata sudah melakukan ptotokol kesehatan sesuai aturan yang diberlakukan pemerintah untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19,” ungkap General Manager Ziva a Boutique Villa Bal ini.

Sekarang ini, pariwisata Bali hanya bergantung pada satu segmen, yaitu wisatawan domestic yang arah datangnya lebih banyak dari barat yaitu kota-kota di Pulau Jawa. Ini merupakan harapan besar di bulan Desember mengakhiri tahun 2021. Paling tidak, ditutup tahun itu masyarakat khususnya pelaku pariwisata merasakan sedikit raya syukur karena selama dua tahun masa pandemi mulai ada kegiatan menjelang tutup tahun. “Palaku pariwisata kembali merasakan budaya melayani tamu, walau itu wisatawan domestic. Kami bersyukur mendapatkan berkah diakhir tahun. Kami setuju antispasi melakukan kewaspadaan dengan tetap melakukan pembatasan-pembatasan, hanya saja jangan terlalu berlebihan, sehingga dapat mengurungkan niat calon wisatawan untuk melakukan perjalanan ke Pulau Bali,” ucapnya.

Untuk perayaan Nataru nanti, sudah ditetapkan hanya maksimal 75 persen sebagai bagian dari antisiapasi jika terjadi kerumunan berkumpul terlalu masip. Hal itu bisa terima, tetapi para penyedia tempat selaku yang menggelar acara juga sudah melakukan antisipasi dengan menerapkan perotokol kesehatan secara ketat. “Saya rasa, kita sudah sadar, mereka juga sudah sadar, bahwa protocol kesehatan itu penting untuk menjaga kesehatan. Jadi kita tetap menghormati arahan pemerintah untuk tetap mengantisipasi penulasan Covid-19,” tegas tokoh spiritual ini.

Lalu terkait dengan kebijakan karantina 10 hari untuk wisatawan mancanegara, Hendrawan mengaku karena itu sudah ditetapkan makanya tetap menghormati kebijakan itu. Kalau boleh jujur, kebijakan ini merupakan ganjalan bagi pelaku pariwisaya di Pulau Dewataa. Sebelumnya karantina sudah menjafi 3 hari, sehingga memudahkan wisatawan mancanegara yang ditunggu-tunggu untuk masuk kembali ke Bali, berlibur di Pulau Seribu Pura ini, sehingga mampu menggerapak roda perekonomian masyarakat Bali. Ekonomi Bali masih mengandalkan dari pariwisata, sehingga perlu dipikirkan kembali apalagi 10 hari ini harus diberlakukan.

Masyarakat utamanya pelaku pariwisata ingin pariwisata tumbuh kembali, sehingga dapat menggerakan perekonomian terutama para pelaku pariwisata yang sudah hampir dua tahun fakum, tidak ada yang bekerja, pengusaha pariwisata dan akomodasi serta hiburan sudah lama menunggu kapan pariwisata pulih kembali. “Saya rasa masyarakat luas juga menunggu hal ini kembali terjadi, yaitu menggeliatnya sektor pariwisata di Pulau Bali ini,” sebutnya.

Hendrawan kemudian berharapkan, pemerintah memberikan kelonggaran dan mulai memikirkan di tahun 2022 nanti. Ppaling tidak wisatawan mancanegara sudah dapat memasuki direct ke Pulau Bali. Paling tidak memberikan ijin lending pesawat dari internasional untuk kembali lending di Bandara Ngurah Rai. “Visa holiday on rival mulai diterbitkan, sehingga banyak calon wisatawan mancanegara datang. Calon wisatawan terutama dari Australia sudah menunggu kapan Bali benar-benar pitunya terbuka untuk wisatawan asing. Mereka sudah kangen dan rindu untuk datang dan berlibur di Bali,” pungkasnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us