Sandiaga Uno: Bali Harus Miliki “Breakthrough”

Sandiaga Uno: Bali Harus Miliki “Breakthrough”

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno mengapresiasi dan mengucapkan selamat untuk Bali yang telah mengalahkan London menjadi World’s Most Popular Destination in 2021 Tripadvisor Travellers’ Choice Awards. “Prestasi ini menjadi penyemangat untuk segera bangkit bersama-sama dengan tetap menjalankan Protokol Kesehatan (Prokes) Cleanliness, Health, Safety, and Environment (CHSE) yang ketat dan konsisten,” kata Menparekraf, Sandiaga Uno saat melakukan pertemuan tertutup dengan Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali, di Poltekpar Bali, Kamis (11/2).

Sandiaga Uno juga mengapresiasi para General Manager Hotel sebagai pimpinan tertinggi dalam industri perhotelan berada pada garda terdepan, serta berjuang bersama-sama dalam menghadapi tekanan pandemi Covid-19 yang terjadi hampir setahun ini. Pihaknya, merespon positif dan sangat berempati terhadap kondisi Bali saat ini. “Kita dalam frekuensi yang sama, dan sangat setuju, bahwa Bali harus memiliki terobosan (breakthrough) yang terukur untuk mengantisipasi tekanan pandemi Covid-19. Harapan IHGMA terkait program vaksinasi untuk Bali akan diupayakan mencapai 70%, dan rencananya dimulai pada Maret 2021. Bali harus mendapatkan prioritas untuk program vaksin, baik melalui platform pemerintah ataupun platform gotong royong untuk menciptakan herd imunity yang kuat pada komunitas di Bali,” paparnya.

Rencana open boarder untuk wisatawan international akan dicanangkan paling cepat Maret 2021 atau paling lambat April 2021 melalui program Free Covid Corridor (FCC). “Untuk itu mari bersama-sama kita siapkan mekanismenya dengan baik, terutama prokes CHSE agar tetap dapat dijalankan dengan ketat dan konsisten. Bali harus bangkit dan bersama sama kita mnegupayakan yang terbaik untuk Bali. Termasuk bagaimana bisa memberdayakan pecalang yang ada sebagai ambasador dari CHSE. Saya berharap IHGMA dapat menjadi pendamping program Desa Wisata,” ungkap Sandiaga Uno.

Sebelumnya, Ketua IHGMA DPD Bali, Dr. Yoga Iswara menjelaskan, badai yang dihadapi adalah sama, namun perahu itu berbeda. Kiasan perahu untuk Pariwisata Bali adalah perahu yang kondisinya paling buruk, sehinga tekanan dan gelombang akan sangat dirasakan tenaga kerja pariwisata yang sudah hampir setahun berstatus “OTG” (Orang Tanpa Gaji). “Kondisi kami yang terpuruk di Bali, tidak mungkin bisa dirasakan bagi kaum elite yang masih tetap mendapatkan gaji saat ini. Kami sangat mengapresiasi pemerintah melalui dana hibah, juga para pengusaha dan GM hotel yang telah banyak berkorban mengupayakan segalanya untuk bertahan, ditambah tekanan aturan yang dikeluarkan tidak tepat sasar, sehingga menambah sesaknya nafas pariwisata,” paparnya.

Bali telah memasuki tahapan komplikasi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 sebesar – 9.31%, sedangkan nasional adalah – 2.07% dan Bali berada pada peringkat 34. Komplikasi yang dimaksudkan adalah kebijakan tidak bisa terfokus pada satu aspek saja. “Aspek kesehatan dan aspek ekonomi harus bisa berjalan berdampingan coexist at mutual tolarance, yang artinya prokes CHSE kita perketat, namun perekonomian juga jangan terlalu dibatasi, sehingga harus ada sense of crisis pada kedua aspek tersebut. Program reward dan punishment bisa diterapkan, bisnis yang melanggar dan tidak menerapkan prokes CHSE ditutup dan yang berhasil menerapkan prokes CHSE agar bisa di support dengan baik dan diberikan reward,” usulnya.

Kontribusi Devisa Pariwisata Bali Tahun 2019 mencapai 75 T dengan pencapaian nasional adalah 270 T, sehingga Bali berkontribusi hampir 30%. Berdasarkan angka tersebut, sudah sepantasnya Bali mendapatkan prioritas program vaksinasi minimal 70% dari jumlah penduduk yang ada, yaitu 2.9 juta penduduk dan yang dibutuhkan saat ini adalah timelines dan eksekusi yang jelas, cepat dan terukur. Denga begitu, harapan masyarakat Bali untuk bangkit bisa dijaga dan realisasikan bersama.

Setelah program vaksinasi focus, selanjutnya open border untuk wisatawan international. Itu karena Bali tidak bisa tergantung hanya dengan domestik market, real solutionnya adalah wisatawan international. “Kita mesti tetap selektif dan fokus pada wisatawan yang sudah melaksanakan vaksinasi di negaranya dan juga wisatawan dengan longstay minimal 30 hari, tetap melalui prokes CHSE kedatangan,” imbuhnya.

Pertemuan tertutup itu dihadiri oleh Deputi Sumber Daya dan Kelembagaan Dr. Wisnu Bawa Tarunajaya, Fransiska Handoko (Sekjen IHGMA Bali), Wayan Muka (Waka II IHGMA Bali), Agung Sudda (Kabid Hukum IHGMA Bali), Theresia Elena (Kabid Humas IHGMA Bali), Ida Ayu Lestari (Kabid Kelembagaan) dan Nyoman Prabawa (Wakabid IT IHGMA Bali). (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us