Sanggar Seni Kebo Iwa Garap “Kawisesan Mahosadhilata”

Sanggar Seni Kebo Iwa Garap “Kawisesan Mahosadhilata”

Hutan yang memiliki berbagai jenis tumbuhan itu, sesungguhnya merupakan sumber usadha atau obat bagi kehidupan manusia. Daun, bunga, kulit, akar, buah dan akar dari tumbuhan itu bisa dimanfaatkan menjadi obat. Karena itu, selain harus dijaga, hutan juga mesti dilindungi, sehingga tetap asri dan sumber-sumber obat itu masih lestari. Itulah pesan yang disampaikan Sesolahan (Pagelaran) seni sastra yang ditayangkan Chanel You Tobe Dinas Kebudayaan Provinsi Bali pada Senin (8/2) pukul 19.00 Wita. Garapan seni yang kreatif itu berjudul “Kawisesan Mahosadhilata” disajikan oleh Sanggar Seni Kebo Iwa.

Kawisesan Mahosadhilata mengisahkan, Putra Rahwana yang bernama Meganada akhirnya turun ke medan laga. Ia memiliki berbagai jenis panah yang berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Bahkan Dewa Indra sekalipun. Dalam menghadapi Rama beserta pasukan keranya, Meganada mengeluarkan kesaktian bernama Adresiatantra yang menyebabkan langit seketika gelap, orang lain tidak bisa melihat pergerakan Meganada. Wibhisana kemudian meminta Hanoman untuk mencari tumbuh-tumbuhan sebagai bahan obat bernama Mahosadilata itu berada di Puncak Gunung Himawan. Karena, tidak tahu secara pasti tumbuhan obat itu, Hanoman memotong puncak gunung lalu dibawa kehadapan Wibhisana. Ramuan itu berhasil menyembuhkan para pasukan kera Rama.

Garapan yang didukung oleh sebanyak 20 orang penari dan 6 orang musisi dan 1 orang dalang itu berbentuk fragmentary yang masih kental dengan unsur-unsur tradisi. Tari yang ditata oleh I Putu Anggra Dana Suka. S.Sn. dan I Made Sidik, S.Sn.,M.Sn lebih mengedepan gerak-gerak kreasi namun tetap berpatokan pada pakem tari yang ada. Antara gerak tari dan music iringan saling mendukung, bahkan padu menjadi satu. Untuk memberikan jiwa dalam setiap gerak dan adegan, garapan ini menggunakan iringan Gamelan Gong Kebyar serta seorang dalang untuk memberikan penegasan dalam setiap adegan.

Garapan berdurasi 33 menit itu, memang digarap untuk memeriahkan ajang Bulan Bahasa Bali 2021 yang dibuka oleh Gubernur Bali pada Senin 1 Pebruari 2021 lalu. Karena itu, pemilihan tempat menjadi pertimbangan, sehingga dapat memberikan kesan yang lebih hidup. “Untuk memberikan kesan hutan, serta mendukung tema Bulan Bahasa Bali yakni “Wana Kerthi” maka para penari menggunakan kostum yang bersumber dari hutan, seperti menggunakan daun-daunan kering untuk tokoh raksasa dan memanfaatkan semak belukar untuk kostum penari pohon-pohonan,” kata Ketua Sanggar I Nyoman Mariyana, S.Sn.,M.Sn.

Para penari hitan dibalut dengan semak belukar hijau yang rimbun, sehingga benar-benar tampak hutan. Pemilihan tempat juga menjadi pertimbangan, seperti melakukan di seputaran Desa Mambal yang memang representative untuk melakukan syuting. Disana ada kawasan hutan, lahan yang memang sengaja dipilah. “Sebelum itu, kami telah melakukan observasi. Ternyata cocok untuk syuting. Disana juga ada candi bentar yang pas dengan sistem kerajaan yang sesuai dalam ceritera. “Dalam garapan ini, kami juga ingin menyampikan kesetiaan Sang Hanoman kepada junjungannya Sri Rama,” imbuh Mariyan yang juga penggarap iringan music iringan bersama Eka Widiadi Sucipta, S.Sn., I Made Putra Aryasa, S.Sn., Putu Trisna Nugraha, S.Sn. dan I Putu Ariawan S.Sn.

Mariyana mengatakan, agar lancar dalam penggarapan, pihaknya mengawali dengan menggarap music iringannya terlebih dahulu di studio. Arttinya dimuali dari merekam music secara utuh. Selanjutnya melakukan latihan dengan para penari sesuai dengan musiknya. Namun, tetap mengutamakan gerak tari serta trik-trik dalam seni pertunjukan, sehingga garapan itu menjad leboh menarik. “Setelah itu baru melakukan perekaman visual di lokasi yang kami pilih. Secara editing kami juga menggunakan media green screen sesuai adegan,” ceritanya.

Hal terpenting dalam garapan itu, yaitu setiap akan menmggelar latiha, para penari ataupun penabuh dan stage crew sudah melakukan cek suhu tubuhnya. Pemaian musik dan para penari harus memiliki kondisi prima dan sehat. Penggunaan masker pada saat proses latihan music, menjaga jarak sudah dilakukan. Bahkan, media gamelan Bali sudah disetting sesuai dengan protocol kesehatan yakni ada jarak antara pemain yang satu dengan lainnya. “Kami pasti mencuci tangan sebelum atau setelah aktivitas latihan selesai,” ungkapnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us