Sayang Binatang dan Pariwisata di Bali

Sayang Binatang dan Pariwisata di Bali

“Berbagai jenis binatang di Bali mempunyai daya tarik tersendiri dalam perkembangan pariwisata,” ungkap seorang pakar hewan dalam suatu acara kontes anjing di Lapangan Puputan Badung setengah bergurau. Kebetulan saat itu memang ada serombongan wisatawan asing yang menonton kontes anjing Bali yang digelar sebuah organisasi penyayang anjing di Denpasar.  Jika ditelusuri lebih dalam, ungkapannya itu didasari atas kenyataan bahwa kegiatan tradisi, ritual dan budaya Bali  yang menjadi daya tarik pariwisata

banyak memanfaatkan berbagai jenis binatang.  Karena itu,  semua orang Bali mempunyai kewajiban memelihara  berbagai jenis binatang di rumahnya dan melindungi Kawasan Swaka Margasatwa, tempat-tempat tertentu yang banyak dihuni binatang liar. Setiap desa pakraman (sistem kesatuan hidup masyarakat Bali) memiliki awig-awig (peraturan hukum tertulis) yang  menjadi pedoman dalam berprilaku mewujudkan hidup harmonis dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan lingkungan hidup, termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan. Tampaknya konsep hidup orang Bali menyayangi binatang sangat sejalan dengan konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang dicetuskan oleh World Tourism Organisation (WTO).

Pariwisata yang dikembangkan harus menghormati norma-norma masyarakat lokal, menjamin kelestarian lingkungan dan  meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Orang Bali di pedesaan  yang mempunyai halaman rumah yang luas biasanya lebih banyak memelihara binatang. Hewan-hewan itu diperlakukan sangat istimewa dengan perawatan khusus. Hewan  itu seperti ayam, itik,  babi, sapi, kerbau, anjing dan lain-lain mempunyai arti yang sangat penting, baik secara sekala (alam nyata) yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi,  maupun secara niskala (alam supranatural) masyarakat Bali menggunakan aneka hewan sebagai sarana ritual. Tidak mengherankan, orang Bali mempunyai hari istimewa  untuk merawat secara spiritual hewan-hewannya dan menyampaikan rasa puji syukur kepada Tuhan yang telah menciptakan dan memelihara hewan-hewan dengan baik.  Tuhan dalam manifestasinya sebagai penjaga dan pemelihara hewan-hewan disebut Sang Hyang Rare Angon. Hari yang istimewa tersebut disebut dengan Tumpek Andang, atau ada juga yang menyebut Tumpek Pengatag atau Tumpek Uye setiap hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Uye, setiap enam bulan (210 hari) sekali.

Pada hari Tumpek Kandang ini, orang Bali dan para peternak menghaturkan sesaji ke hadapan Sang Hyang Rare Angon dengan diiringi doa, agar hewan-hewan peliharaannya gemuk dan sehat sehat serta berkembang biak dengan baik. Jenis upakara yang dipersembahkan berupa : peras, ajuman, daksina, dapetan, penyeneng, pesucian, berbagai jenis tipat, seperti tipat kukur, tipat dara, tipat sidapurna, belayag, belekok, pesor, pasung,  dan lain-lain sesuai dengan kemampuan seseorang. Bagi peternak yang kaya, tentu akan membuat sesaji yang besar dan lengkap. Kandang – kandang dibersihkan serta dihias seindah mungkin dan ternak-ternak terlebih dahulu

dimandikan, kemudian diberi perhiasan kain dililitkan di lehernya atau punggungnya diselimuti kain warna-warni. Jika Anda seorang penyayang binatang, maka sangat beruntung Anda berlibur di Bali pada pertengahan Juli ini  karena dapat melihat tradisi beternak orang Bali yang unik. Selain sebagai seniman, pegawai kantoran, atau  petani, nyaris semua orang Bali adalah juga seorang peternak. Setidak-tidaknya setiap keluarga memelihara beberapa ekor ayam, itik, babi,  atau sapi, dan tentu saja anjing sebagai penjaga rumah. Hewan-hewan peliharaan ini sangat besar manfaatnya bagi kelangsungan hidup orang Bali yang  teguh menjaga tradisinya dan melaksanakan upacara  Agama Hindu.  Setiap upacara pasti memerlukan daging sebagai pelengkap sesaji, sesuai dengan jenis dan tingkatan upacara yang dilaksanakan. 

Semakin tinggi tingkatan upacara, semakin banyak diperlukan daging hewan untuk sesaji. Misalnya  upacara Mecaru Panca Sata, menggunakan daging  5 (lima) ekor ayam,  masing-masing  ayam berbulu selem (hitam),  putih ( putih),  barak (merah),  brumbun (bermacam-macam warna bulunya), dan ayam putih siyungan (putih hitam).  Upacara  Tawur Kesanga setiap tahun menjelang Nyepi  memanfaatkan binatang seperti babi, itik, ayam, kambing dan kerbau. Saat upacara Ekadasa Rudra di Besakih yang berlangsung seratus tahun sekali misalnya,  semua jenis binatang yang ada di bumi ini dijadikan korban suci, sehingga tercipta bhutahita dan jagadhita (keharmonisan alam semesta dan kesejahteraan hidup lahir bathin).  Selain untuk upacara hewan-hewan peliharaan itu juga sering disemblih untuk keperluan mencukupi menu sehari-hari yang diolah sesuai selera masing-masing, seperti diolah menjadi lawar, jukut ares, sate,  serapah,  urutan, dan sebagainya.

Tunggangan para Dewa

Orang Bali  juga percaya, binatang-binatang itu adalah kesayangan para dewa dan banyak membantu manusia. Kucing banyak membantu manusia mengusir tikus-tikus yang mengganggu tanaman padi. Angsa adalah binatang tunggangan Dewi Saraswati, manifestasi Tuhan sebagai pencipta dan penguasa ilmu pengetahuan.  Lembu, apalagi lembu berwarna putih adalah  tunggangan Dewa Siwa, sehingga lembu putih selalu menjadi pelengkap saat upacara pitra yadnya. Sapi membantu manusia membajak di sawah, sehingga sapi mendapat perawatan dan pemiliharaan secara khusus oleh  para petani. Monyet merupakan binatang yang cerdik dan banyak akal, menjadi prajurit-prajurit tangguh Sang Rama dalam pertempuran melawan Rahwana, menegakkan kebenaran di bumi ini. Hanoman, Subali, Sugriwa, Anila, Anggada, Jembawan, adalah beberapa nama monyet yang memiliki kekuatan luar biasa. Burung Garuda adalah tunggangan Dewa Wisnu yang bertugas menjaga keselamatan dan kesejahteraan kehidupan di bumi ini. Raja

Airlangga saat memerintah Jawa Timur mulai tahun 1019M, lencana kerajaannya berupa Garudamukha yang juga sering menjadi lukisan di sisi atas prasasti. Ketika wafat tahun 1049M dan dimakamkan di Tirtha, Ia juga dibuatkan sebuah arca Dewa Wisnu menaiki burung Garuda. Arca yang indah ini sekarang disimpan di Museum Mojokerto. Burung Garuda sampai sekarang menjadi lambang Negara Republik Indonesia. Hal-hal aneh tapi nyata  sering terjadi di Bali dengan bermunculan binatang tertentu di suatu tempat. Demi menjaga keselamatan dan kenyamanan berlibur Anda di Bali, selalu waspada di jalan dan percaya hal-hal mistirius itu, tentu tidak ada salahnya. Bila Anda ingin tahu lebih banyak tentang binatang-binatang yang dijadikan kurban suci, bisa dibaca lontar-lontar yang menguraikan tentang upakara di Bali, seperti lontar Sundarigama, Widisastra, Leburgangsa, dan lain-lain. Tapi kalau Anda  ingin mendapatkan cerita-cerita menarik tentang binatang, silahkan baca kitab Tantri Kamandaka, kitab-kitab Itihasa,  Purana, dan Upanisad, serta dengarkan pula mitos,  dongeng-dongeng yang berkembang subur di Bali.

Tunggangan Wisatawan

Tentu saja Anda jangan lupa berkunjung ke obyek wisata yang banyak dihuni  binatang liar seperti ke Sangeh di Badung Utara, Alas Kedaton di Tabanan,  Alas Taro  di Gianyar,  Goa Lawah di Klungkung,  atau Taman Suaka Margasatwa di  Jembrana, Bali Barat melihat habitat Burung Jalak Putih. Anda bisa juga bercengkrama dengan binatang-binatang yang dipelihara di kebun binatang, seperti  Taman Burung di Singapadu.

Di Taro Gianyar Anda juga bisa menunggang Gajah  dan di Nusa Dua Anda bisa menikmati terik matahari  dengan menunggang Unta seperti di gurun pasir. Jika saat ini berwisata di Bali menunggang binatang, barangkali memberikan kesenangan tersendiri bagi Anda,  karena Anda  boleh membayangkan diri seolah-olah  utusan para Dewa turun dari langit dengan menunggang binatang kesayangannya.  Anda tertarik ? ( Prof. Dr. Drs. Ketut Sumadi, M.Par, Guru besar dan Dosen Universitas Hindu Negeri IGB Sugriwa ).

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us