Sehat dan Bugar di Masa Pandemi

Sehat dan Bugar di Masa Pandemi

Pria energik, pandai bergaul dan selalu kelihatan hepi ini memang banyak temannya. Setidaknya bagi pengguna Alun Alun Kota Gianyar. Para pejoging, peyoga, pesepeda, atau yang sekadar duduk duduk saja mencari asupan Vitamin D akrab dengan sosok Selamet Darsana (67) asal Desa Tulikup, kabupaten Gianyar ini. Hampir setiap hari dia bisa ditemui di tempat ini, Alun Alun Gianyar yang saat ini semnjadi salah satu tempat wisata serta olah raga di pusat kota.

‘’Saya menjalani hidup sesuai takdir saya saja,’’ ujar Pak Selamet, begitu dia biasa dipanggil. Maksud takdir bagi dia yang bisa bermain gitar sekaligus menyanyi, memainkan gamelan Rindik serta menyuling ini, sesuatu yang bisa dikerjakan. Tidak menginginkan lebih apalagi sampai berobsesi lebih.

Selain beberapa kemahiran itu, Pak Selamet juga dikenal sebagai guru yoga. ‘’Meraka yang saya ajari dari berbagai kalangan agama. Ada Hindu, Muslims erta Kristen. Ini bentuk olah raga serta olah nafas yang membuat tubuh kita bugar serta sehat dalam menaghadapi pandemic ini,’’ ujar Selamet. Pada setiap sesi latihannya, dia selalu mengingatkan agar murid muridnya itu selalu memakai amsker apabila keluar rumah, sering mencuci tangan serta menjauhi kerumunan. ‘’Saya sudah vaksin tahap pertama. Pertengahan Januari 2022 nanti yang kedua,’’ ujarnya.

Dalam menghaapi pandemic ini, apalagi semakin banyaknya varian yang muncul, pelaksnaan protocol kesehatan adalah yang utama di samping vaksin. Hidup sehat dengan asupuan makanan serta vitamin sehingga membuat daya tahan tubuh meningkat. ‘’Saya seorang vegetarian. Tidak makan daging, tidak mengkonsumsi makanan yang digoeng. Cukup direbus saja. Tahu tempe, sayur serta tahu. Tidak merokok serta tidak ngopi,’’ ujar pria dua anak serta 6 cucu ini.

Saat pandemic ini, kehidupan memang jadi susah tetapi bukan berarti kita mesti kehilangan semangat. ‘’Tetaps emangat dan berharap serta yakin bahwa kondisi ini akan berubah,’’ katanya. Selamet menjalani kesehariannya  seperti pengojek. ‘’Ya seperti itulah. Mengantar penumpang ke tujuan. Dengan motor atau mobil. Kadang menjemput serta mengantar penumpang ke rumah sakit,’’ katanya. Sempat jadi sopir angkot untuk siswa tetapi mengaku sudah kuat lagi karena mesti bangun pagi. ‘’Di samping tiu anak saya juga menganjurkan agar tidak terlalu ngoyo,’’ jelasnya.

Dua anaknya adalah anggota polisi. Seorang bertugas di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung-Bali dan seorang lagi bertugas di Kupang, NTT. Istrinya ikut anaknya di Kupang. Jadi dia tinggal di Desa Tulikup seorang diri. Kadang suatu waktu dia ke Nusa Penida atau Kupang menengok Cucunya. Dulu sekitar 1984, dia sempat menjadi tourguide yang mangkal di objek wisata Monkey Forest, Ubud. ‘’Saya bisa bahasa Inggris  jadi sudah fasil menghandle turis saat itu. Bisa bahadsa Jawa, Madura dan sedikit Sunda,’’ ujarnya.

Di masa pandemic ini, selain mengajar yoga secara gratis, dia juga mengajar menyuling serta bermaian rindik. ‘’Pokoknya kita ingin sehat serta bugar. Saya tidak menerima bayaran dari apa yang saya ajarkan, tetapi seringkali mereka memberi saya upah sekedarnya,’’ akunya.  Beberapa penyntas Covid-19 juga menjadi muridnya. Kalau yang sudah berumur diajarkan gerakan gerakan yang relative mudah dan cenderung ke olah pernafasan. Ketika jaman susah ini, kesehatan merupakan harta utama. Untuk itu dia selalu menegaskan kepada murid yoganya agar selalu mengikti apapuns aran pemerintah. Tidak bandel dan merasa diri kebal terhadap Covid-19. Memakai masker, sering mencuci tangan dan jangan berkerumun. Itu kuncinya disamping vaksinyai. (BTN/pal)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us