Seniman Cilik Beraksi di Ajang PKB XLIII

Seniman Cilik Beraksi di Ajang PKB XLIII

Menyaksikan permainan gender tanpa dibarengi dengan pertunjukan wayang kulit, kini sudah tidak membosankan lagi. Coba saja simak penampilan seniman cilik pada Wimbakara (Lomba) Gender Wayang dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-43 di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar, Selasa (15/6). Saat itu tampil Sekaa Gender Nyadnya Suara Banajr Dinas Ngis Kaler, Desa Tribuana kecamatan Abang sebagai Duta Kabupaten Karangasem, Sekaa Gender Wayang Anak-Anak “Sabdha Kencana Sakti” Desa Ubung Kaja sebagai Duta Kota Denpasar dan Sanggar Seni Sri Kembang Banjar Bindu, Desa Mekar Bhuana, Kecamatan Abiansemal sebagai Kaputen Badung.

Semua sekaa gender anak-anak ini tampil dengan gaya dan teknik yang memikat. Setiap bilah yang dimainkan mengundang decak kagum penonton. Aksi para seniman cilik ini menjadi daya tarik pengunjung PKB dalam setiap tahunnya. Namun, untuk PKB kali ini, penonton tidak bisa seperti dulu karena dibatasi dimasa pandemi. Selain itu, penonton wajib menyetor hasil tes swab antigen negative, chek suhu, membersihkan tangan dengan hand sanitizer dan memakai masker sebagai penerapan protocol kesehatan (prokes). Walau demikian, penonton yang tidak bisa menyaksikan secara langsung dapat menyimak di You Tobe Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Masing-masing peserta menampilkan Gending Sekar Gendot dan Gending Pamungkah sebagai materi wajib. Walau nama gending yang dimainkan sama karena sudah menjadi warisan, namun dalam penampilannya memiliki kreasi dan gaya yang sangat khas. Mereka menyajikan karakter gending wayang dari daerahnya sendiri, namun sudah mendapat olahan kreasi dari para pembina masing-masing, sehingga menjadi gending yang lebih manis dan menarik. Cara menyajikan juga berbeda yang dapat disaksikan lewat gaya, ekspresi, dan tingkat permainnya, namun tetap menarik.

Sedangkan materi ketiga, masing-masing duta menyajikan gending pilihan. Duta Karangasem menampilkan Tabuh Bima Kroda, sebuah iringan tabuh pada perjalanan tokoh Bima. Gending ini mencerminkan tokoh Bima yang sedang marah, sehingga dibawakan secara enerjik, cepat, dan keras. Hal itu, karena Bima sebagi kekuatan dari Sang Hyang Bayu dapat menghidupkan kekuatan yang paling mendasar dalam diri untuk berkesenian. Walau mengandung jiwa marah, namun dalam penyajiannya gending ini juga ada ngembang (keras) dan ngisep (rendah namun tetap cepat).

Duta Kota Denpasar menampilkan Gending Wenara Petak, sebuah gending yang sangat enerjik, seperyi sufat-sifat wenara (kera). Wanara Petak berarti Kera Putih atau manusia berekor monyet, yang biasa disebut dengan Anoman putra dari Bhatara Bayu dan Anjani, Dalam wiracarita Ramayana, Wanara Petak memiliki karakter yang tegas, enerjik, dan gagah berani dalam perjalanan menuju pertempuran. Karakter Wanara Petak itu dituangkan kedalam komposisi gending Angkat-Angkatan Gender Wayang dengan olahan melodi, ritme, tempo yang diatur sedemikian rupa, dan tidak meninggalkan khas dari Gender Wayang.

Sementara Duka Kabupaten Badung menampilkan Gending Angkat-angkatan Kata angkat-angkatan berasal dari kata angkat yang mengandung arti perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain, sehingga dipersonifikasi menjadi berjalan atau perjalanan. Gending ini dipakai saat adegan perjalanan di dalam pertunjukan wayang. Walaui sebagai gending perjalanan, namu secara musikalitas gending ini tetap mempunyai tempo agak cepat, sehingga mendukung suasana perjalanan di dalam pertunjukan wayang itu sendiri. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us