Sepasang Jalak Bali Dilepasliarkan

Sepasang Jalak Bali Dilepasliarkan

Yayasan Begawan melepasliarkan sepasang burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dari rumah I Wayan Murdana, warga Desa Melinggih Kelod, untuk pertama kalinya. Yayasan Begawan telah bekerja sama dengan asosiasi peternak lokal di Melinggih Kelod, Asosiasi Peternak Madhusuara, untuk pelepasliaran berbasis komunitas ini, Senin (5/4). Yayasan Begawan, LSM yang berbasis di Bali yang bekerja di bidang konservasi dan pendidikan telah melindungi Burung Jalak Bali dan habitatnya selama lebih dari 20 tahun.

Jalak Bali yang terancam punah adalah burung terlangka kedua di dunia. Pada tahun 2017, Yayasan Begawan menyadari bahwa program konservasi tidak akan berjalan tanpa dukungan dan keterlibatan masyarakat setempat. Yayasan kemudian memulai program konservasi berbasis masyarakat, bekerja sama dengan peternak lokal di desa Melinggih Kelod.

Untuk menciptakan situasi ‘win-win’ antara konservasi dan pengembangan masyarakat, manfaat bagi masyarakat harus jelas. Tujuan dari program ini adalah agar keturunan dapat dilepaskan dalam dua tahun dan tahun-tahun berikutnya. Dengan pengawasan yang serius dan penegakan hukum, diharapkan keturunan ini akan berkembang biak di alam liar, menciptakan kawanan Jalak Bali liar yang dilindungi oleh masyarakat, dan program ekowisata di desa Melinggih Kelod selanjutnya dapat memberikan penghasilan bagi masyarakat.

“Tujuan dari kerjasama ini adalah untuk membudidayakan Jalak Bali dan melepasnya dengan aman ke alam liar di Desa Melinggih Kelod untuk menambah populasinya. Yayasan Begawan dan masyarakat di Melinggih Kelod dapat bergandengan tangan dalam upaya konservasi dan melakukan upaya yang diperlukan untuk melindungi Jalak Bali, ”ungkap I Wayan Junaskhara Susana, Ketua Asosiasi Peternak Madhusuara.

Program konservasi Yayasan Begawan melibatkan masyarakat dalam penangkaran burung berkelanjutan, mengurangi kebutuhan untuk mengambil burung dari alam liar. Konservasi berbasis masyarakat seringkali menantang dan membutuhkan komitmen yang kuat serta perencanaan yang tepat agar berhasil. ”Yayasan Begawan telah berinisiatif dan berkomitmen untuk membangun kemitraan jangka panjang dengan desa Melinggih Kelod untuk melestarikan Jalak Bali baik di penangkaran maupun di alam liar.” jelas Junaskhara

Kerja sama dengan peternak lokal diawali dengan program binaan, dimana peternak lokal masing-masing mendapatkan sepasang Jalak Bali dari Yayasan Begawan. Sebelum orang tua asuh menerima sepasang Burung Jalak Bali, staf melakukan pelatihan untuk para peternak di Pusat Pembibitan dan Pelepasliaran Yayasan di Melinggih Kelod. Penempatan kandang telah dilakukan dengan pengawasan Yayasan untuk memenuhi semua persyaratan yang dibutuhkan untuk lingkungan perkembangbiakan yang sehat.

Saat ini terdapat lima peternak lokal dengan lima pasang Jalak Bali. Peternak telah berhasil menetaskan 18 Jalak Bali sejak tahun 2019, dengan hanya tiga anak burung yang mati secara alami. Bersama-sama, Yayasan dan peternak lokal telah mengupayakan cara terbaik untuk melepaskan Jalak Bali dengan aman. Pengamatan dan pemantauan pasangan pertama yang dilepasliarkan hari ini akan dilakukan untuk memastikan burung Jalak Bali aman di alam liar.

“Jalak Bali adalah maskot kami di Bali,” kata drh. I Made Sugiarta, dokter hewan Yayasan Begawan, seraya mengingatkan masyarakat akan pentingnya konservasi ini.

“Langkah konservasi dan pelepasan kita adalah observasi dan sosialisasi. Hal ini perlu diketahui masyarakat sekitar, karena konservasi ini tidak hanya untuk kita. Mudah-mudahan suatu saat kita mengucapkan Jalak Bali, masyarakat akan teringat akan Melinggih Kelod, dan ada kemungkinan ekowisata yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar, ”lanjutnya.(BTN/ery)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us