Sepi Pengunjung, Kurma Asih Kesulitan Pakan Penyu

Sepi Pengunjung, Kurma Asih Kesulitan Pakan Penyu

Dimasa pandemi Covid-19 ini, Kurma Asih Sea Turtle Conservation & Education Cente sepi pengunjung. Daya Tarik Wisata (DTW) dengan atraksi koservasi penyu itu yang masih berada di kawasa wisata Pantai Perancak itu, dulunya memang sering dikunjungi wisatawan. Ada yang murni untuk berwisata, ada pula yang melakukan risert, penelitian atau study banding untuk sebuah ilmu. “Saat pandemi ini, memang jarang ada kunjungan ke Kurma Asih Sea Turtle Conservation & Education Cente. Jujur, sepinya pengunjung juga berpengaruh terhadap biaya pakan penyu,” kata Ketua, Anom Astika.

Wisatawan berkunjung memang tidak ada tiket khusus, namun dengan sitem donasi. Wisatawan yang berkunjung dapat membantu kelangsungan hidup binatang yang bisa hidup di air dan darat ini dengan memberikan sumbangan sukarela. “Saat ini, penyu-penyu itu makan dari sumbangkan atau melalui swadaya mayarakat. Biaya pakan penyu, biasa didapat dari bantuan warga. Tetapi, itu pada saat musim ikan lemuru saja. Jika tidak musim lemuru, maka pakan penyu akan membeli sendiri,” imbuhnya seraya mengatakan biaya pakan penyu dalam sehari sekitar Rp 30 ribu.

Ditengah pandemi, pihaknya memang kesulitan untuk pengadaan biaya pakan penyu. Hampir 9 bulan kunjungan mati suri alias zonk. Khusus untuk pakan tukik, biasanya mendapat bantuan dari desa, namun saat pandemi ini belum ada bantuan. Walau minin dana, pihaknya selalu memberi makan dengan cukup teratur. Air kolam dipastikan hrus tetap bersih. Karena, memelihara penyu tidak terlalu banyak. Cukup disisakan sebagai contoh untuk edukasi dan riset. “Kalau ada yang sakit parah, kami mengkordinasikan dangan tim dokter hewan Kedonganan Veterinary. Namun, jika sakit ringan, kami obati dan rawat di Kurma Asih saja. Penyu itu satwa yang dilingungi UU No 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya,” ucapnya.

Walau sepi kunjungan, tetapi dalam menjalani tatanan kehidupan era baru, Kurma Asih Sea Turtle Conservation & Education Center sangat konsisten. Tempat konservasi ini menerapkan protokol kesehatan yang mengacu pada 3M, yaitu Memakai masker, Mencuci tangan serta Menjaga jarak dan menghindari kerumunan. “Kami baru bisa menyiapkan tempat mencuci tangan, hand sanitezer dan masker. Sementara Alat Pelindung Diri (APD) kami tidak mampu membelinya. Boro-boro bisa beli APD, untuk operasianal saja udah sekarat,” sebutnya.

Kurma Asih Sea Turtle Conservation & Education Center merupakan kelompok pelestari penyu yang beralamat di Jalan Krisna, Banjar Mekarsari, Desa Perancak, Kecamatan Jembrana. Namun, sejalan dengan perkembangnya Bali sebagai tujuan wisaata dunia, konservasi yang didukung oleh para nelayan itu ikut berkembang menjadi tujuan wisata. Wisatawan asing, domestik ataupun masyarakat lokal biasa berkunjung ke kelompok pelestari penyu itu. Anak penyu, induk saat bertelur dan proses menetaskan telor menjadi penyu menjadi daya tarik utama.

Selain sebagai tempat edukasi, lokasi Kurma Asih Sea Turtle Conservation & Education Center ini memang sangat indah, sehingga pas untuk bersantai. Berada pada kawasan hutan mangrove dan pantai yang memang indah. Jaraknya juga sangat dekat dari Kota Negara, yakni sekitar 20 menit, dan sangat dekat dengan Daya Tarik Wisata lain, diantaranya Pura Dangkhayang Gde Perancak, Pelabuhan Perahu Madura Bugis, dan Sumur Bajo yang dikramatkan. “Selain kegiatan Konservasi Penyu di Kurma Asih juga ada wisata kuliner aneka Sea food, ikan panggang khas Perancak,” terang pria enerjik ini.

Konservasi penyu yang sudah ada sejak 1997 ini melestarikan penyu dengan 3 jenis yang mendarat dan bertelur sesuai dengan karakteristik pasir pantai. Tiga jenis penyu itu adalah penyu lekang, blimbing dan penyu sisik. Saat itu, penetasan dilakukan secara alami, namun akibat luasnya jangkauan, sehingga pada 2000 penetasan dilakukan secara semi alami, yaitu mulai melakukan relokasi sarang. Berbagai aktivitas kelompok yang begitu kreatif, menjadi perhatian banyak kalangan, sehingga Kurma Asih meraih penghargaan nasional ataupun internasional. “Sejak 1997 hingga tahun 2020, kami telah melepaskan tukik baik dari sarang alami maupun semi alami mencapai 302.403 ekor,” ungkapnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us