Setahun Pandemi Covid-19, 80% Hotel di Tabanan tak Beroperasi

Setahun Pandemi Covid-19,  80% Hotel di Tabanan tak Beroperasi

Tekanan pandemi Covid-19 betul-betul dirasakan oleh para pengusaha dan pengelola industry perhotelan di Pulau Dewata. Hampir setahun tidak ada pemasukan, namun biaya operasional terus saja megalir, seakan tak peduli dengan kunjungan hotel yang sudah zero. Mungkin karena kondisi itu, berhembus kabar kalau beberapa pemilik hotel sudah mengiklankan property-nya lewat media-media online. “Kalau di Tabanan, kami belum mendapat laporan mengenai usaha perhotelan yang menyatakan tutup total, dalam istilah bangkrut,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Tabanan, I Gusti Bagus Made Damara.

Semua orang mungkin sudah memahami, semenjak pandemi Covid-19 hotel-hotel sudah menutup operasionalnya, sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona. Pada September 2020 ada wacana untuk menjalankan tatanan kehidupan era baru (New Normal), sehingga pengelola hotel gencar melakukan sertifikasi oleh tim yang dibentuk masing-asing kabupaten. Pada saat itu, hotel-hotel yang sudah tutup mulai mulai ada semangat ambil ancang ancang new normal bakalankembali operasi. “Kenyataan justru karena Covid-19 bukannya menurun, malah makin tinggi, sehingga tetap berdamapk bagi pengelola hotel,” ucapnya.

Pada Desember 2020, menjelan libur akhir tahun memang sempat ada sedikit gaerah, sehingga ada beberapa hotel yang sebelumnya tutup akhirnya buka kembali. “Mesti dimaklumi, apabila hotel itu dikatakan ditutup selalipun tidak bisa serta merta ditutup begitu saja. Karena barang-barang lama yang tak pernah dipakai perlu ada penghidupan listrik, ada pembersihan, penjagaan keamanan. Maka itu, walaupun tak ada tamu, hotel tetap memerlukan orang yang bertugas, sehingga walaupun tamunya kosong sekalipun, biaya operasional tetap akan jalan,” paparnya.

Itulah yang menyebabkan, setelah menginjak hampir setahun Covid-19 ini, hotel di Tabanan 80 persen tidak beroperasi. Hotel yang berada di daerah pantai, tidak bisa disamakan dengan hotel yang ada di Pantai Canggu, karena memang wisatawan tinggal disana masih memadai. Maka itu, kehidupan disana itu masih berdenyut. “Berbeda dengan di Tabanan,
hanya didominasi tamu domestik. Sebelum adanya Pemberlakukan Pembatasan Kreativitas Masyarakat (PPKM) tamu domestic yang berkunjungan ke Tabanan meningkat karena Tabanan memang pintu gerbangnya pulau Bali, maka kunjungan lumayan bagus,” jelasnya.

Namun, sedikit ada kendala ditengah kondisi krisis, yaitu objek wisata lain yang mirip dengan di Tabanan itu memberikan free untuk pengunjung, sehingga harga tiket masuk objek di Tabanan masih dianggap mahal. Hal itu mengakibatkan, wisatawan tidak bisa secara penuh berkunjung ke Tabanan. “Pusat-pusat tempat menginap, seperti di Kuta, Nusa Dua, Sanur dan Ubud yang memiliki hotel berbintang dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap menjual kamar murah sekali, sehingga hotel di Tabanan tidak mendapat pilihan. Villa-villa di Ubud yang sebelumnya tidak bisa dijangkau harganya, saat ini mereka ingin menikmati suasana Ubud dengan harga kayak city hotel. Itu artrinya, keberadaan tamu domestic tidak berpengaruh segnipikan terhadap tingkat hunian hotel di Tabanan,” terangnya.

Artinya, lanjut Managing Director Dewi Sinta Hotel & Restotan, bisa dikatakan karena tingkat hunian sangat kecil sekali, maka secara riil memang tidak bisa beroperasi. “Kalau data formal terkait hotel yang diiklankan kami belum punya. Disamping banyak ada hotel-hotel yang tidak berijin, ada yang fugsinya seperti rumah tinggal, sehinggta agak sulit kami mengetahui data riil. Tetapi, kalau di tempat lain ada yang mengiklankan menjual hotel, saya kira secara umum pengelola hotel dalam kondisi seperti ini berat sekali. Karena rata-rata mempunyai hutang di bank. Walau perbankan memberikan relaxasi yang pertama berakhitr pada Maret ini, sehingga relaxasi kedua ada sinyal hijau dari OJK yang akan diberikan lagi sampai Maret 2022,” bebernya.

Memang secara hitung-hitungan mereka tidak bayar cicilan, tetapi mereka tetap kena bunga, sehingga bayar utangnya lumayan berat. Disatu sisi pendapatan tidak ada, sedangkan oprasional masih tetap, sehingga bisa dikatakan jelas Bali ingin mendapatkan fasilitas kridit super lunak dangan masa kredit yang cukup panjang. Sebab, dimasa ini, siapapun tidak berani menjamin sampi kapan pandemic berakhir, di satu sisi kebutuhan operasional sangat penting. “Data kuantitatif tidak bisa kami berikan. Di grup WA tak banyak yang aktif, karena memag sudah semua malas ngomong karena kondisi sangat berat sekali,” ujarnya.

Memang ada program pemerintah, seperti travel barbell. Tetapi, dengan jumlah hotel demikian besar di Bali, dan potensi Tabanan yang nota bene target market tamu asing, maka harapan untuk mendapatkan tingkat hunian cukup berat. “Apakah ada yang menjual hotel, saya kira yang ingin menjual banyak sekali. Tetapi, dalam kondisi sekarang, disamping harga bisa jadi super murah, orang yang membeli juga belum tentu mau karena dalam konsisi sulit. Mungkin juga mereka sadar, kalau diiklankan yang beli siapa. Kecuali super murah banget mungkin bisa berinfestasi,” lanjutnya.

Memang, ada wacana proram pemerintah akan memberikan dana pinjaman yang murah tentu sangat ditunggu-tunggu. Tetapi, belum tahu persis mekasnismenya. “Minimal, itu akan bisa memberikan nafas sebagai biaya mentenen untuk bisa mengoperasikan hotel dalam kontek memelihara. “Hanya itu salah satu upaya untuk bisa bertahan,” tutupnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us