“Sisyphus Game” Karya Perupa Ketut Putrayasa yang Gelisah

“Sisyphus Game” Karya Perupa Ketut Putrayasa yang Gelisah

Carut marut fenomena social yang terjadi belakangan ini menjadi inspirasi perupa Ketut Putrayasa menhasilkan sebuah karya “Sisyphus Game”. Pemilik Rich Stone ini menghadirkan kegelisahannya lewat karya rupa yang kreatif dan konstruktif. Karya “Sisyphus Game” Ketut Putrayasa itu sebuah cara mengkritisi fenomena rutinitas kekinian yang menjemukan. Karya “Sisyphus Game” itu dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia selama sebulan beberapa waktu lalu, 26 Juli hingga 26 Agustus 2022 dalam hajatan bertajuk Pameran Seni Rupa Kotemporer Indonesia: Manifesto VIII.

Pengunjung pameran itu mengagumi karya instalasi berbahan baja virkan, stainless, dan kuningan, berukuran 215 x 230 x 40 cm dengan berat lebih sekitar satu ton itu. “Sisyphus Game, salah satu dari 108 karya perupa Indonesia yang dipamerkan saat itu. Seratus delapan karya yang dipamerkan di galeri bergengsi itu tak lain sebagai ajang gelar kreasi seniman Indonesia, diseleksi dari 613 calon peserta melalui jalur undangan,” kata Ketut Putrayasa di Rich Stone Kerobokan, Kamis (27/10).

Manifesto VIII bertajuk Transposisi, yang dalam pengantar katalog pameran, para perupa diharapkan memiliki kepekaan visioner dan mampu berkontribusi positif bagi kehidupan masyarakat, serta mendorong kemajuan zaman. Dianggap memiliki pandangan intuituf dan cerdas membaca fenomena yang terjadi, seniman tentu diharapkan bisa meresponsnya dengan karya. Maka, Putrayasa menghadirkan karya “Sisyphus Game”, yang kritis konstruktif.

Putrayasa mengatakan, Sisyphus Game, terinspirasi dari mitologi Yunani Kuno, di mana kelak, Albert Camus, seorang filsuf Prancis, menukilkannya menjadi esai filsafat perihal pergulatan manusia dengan absurditas. Penalaran absurd, manusia absurd, kreasi absurd, harapan absurd. Judul bukunya Mite Sisifus. Dalam mitologi Yunani, Sisyphus menipu dewa kematian, lalu dikutuk mendorong batu besar ke atas bukit. Begitu ia sampai di puncak, batu menggelinding kembali ke bawah, dan Sisyphus harus mendorongnya kembali. Begitu terus-menerus. Sungguh perjuangan sia-sia dan absurd.

Hal itu dibenarkan pengamat budaya dan penulis kenamaan Bali, Wayan Westa, karena absurditas ini, Camus menolak segala bentuk agama, futurisme atau ideologi-ideologi yang menjanjikan kebaikan di masa depan. Bagi Camus yang berbicara adalah pengalaman indrawi, kongkrit masa kini. Karena itu sulit bagi Camus untuk berbicara mengenai cita-cita atau perencanaan di masa depan. Dunia ini irasional karena tidak bisa menerangkan adanya kemalangan, bencana ataupun tujuan hidup manusia.

Sisyphus Game satire baja virkan Ketut Putrayasa tidak tengah membawa pesan filosofi dan tantangan moralitas. Ia lebih menyitir pada satu satire kebudayaan, pada keaadan-keadaan kini yang melanda bangsa dan pulau — di mana bencana, kemalangan, serta krisis multi dimensi selalu dihadapi dengan kerutinan absurd. Nyaris seperti Sisyphus yang dikutuk mendorong batu ke puncak bukit, terjatuh lalu mendorongnya lagi dari bawah.
Sejarah dan pengalaman tak pernah kuasa menyadarkan manusia menemukan terobosan-terobosan baru. Agama, ilmu, sain, tak cukup dibuat berkutik di hadapan bencana yang dihadapi manusia. Putrayasa lewat karyanya itu, ingin menyuarakan bahwa fenomena tersebut sebuah bentuk penjara kurutinan. Ia sadar, kerutinan adalah musuh paling berbahaya seorang kreator. Kerutinan juga musuh besar bagi pemegang kebijakan publik yang tak menemukan jalan keluar saat krisis menimpa rakyat. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us