Souvenir Kera Sabut Kelapa Makin Jarang di Tanah Lot

Souvenir Kera Sabut Kelapa Makin Jarang di Tanah Lot

Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot terkenal unik. Maka wajar, objek yang berada di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan sering menjadi primadona wisatawan domestic maupun mancanegara untuk berlibur. Sayangnya, art shop yang semestinya mendukung keunikan DTW itu, hanya beberapa yang menjual kearikan local asli Desa Beraban, dan Kabupaten Tabanan umumnya. “Para pengelola art shop di Tanah Lot memang kurang menyajikan kerajinan lokal Desa Beraban,” kata Assistant Manager DTW Tanah Lot, I Putu Toni Wirawan, Selasa (5/12).

Dulu, lanjut Jero Toni sapaan akrabnya, memang ada oleh-oleh khas Tanah Lot berupa boneka kera dari bahan sabut/serabut kelapa. Dulu, souvenir sederhana itu banyak dijual oleh para pedagang art shop yang mengais rejeki di objek perpaduan alam dan budaya itu. Belakangan ini, para penjual boneka kera itu mengadopsi dari Pasar Sukawati, Gianyar, sehingga bisa lebih cepat dan dalam jumlah yang banyak. “Maklum, tidak banyak warga Beraban yang menekuni kerajinan tersebut. Karena produksinya sedikit itu, maka mereka mengambil ke luar untuk mengisi art shop para pedagang souvenir,” imbuhnya.

Souvenir-souvenir yang bercirikan kearipan local desa sebagai penyangga Tanah Lot ini memang kurang. Padahal, kearipan local daerah setempat itu menjadi pilihan bagi para tamu. Memang, di Desa Beraban dan desa-desa lain yang ada di kawasan Tanah Lot itu, kerajinan boneka kera berbahan serabut itu menjadi produksi rumahan, bukan menjadi pekerjaan utama. Maka wajar, produksinya terkadang ada, terkadang pula tidak ada. Sedangkan di Sukawati itu sudah menjadi pekerja rutin.

Sementara ini, souvenir yang ditawarkan oleh para pedagang di pasar seni Tanah Lot hampir sama antara pedagang satu dengan lainnya. jenis souvenir yang disajikan, seperti baju, topi, tas ikat pinggang, dan berbagai pernak-pernik lainnya. Ada pula yang menjual makanan khas, seperti klepon, rujak dan minuman. Para pedagang souvenir ini berada di bawah asosiasi pedagang di DTW itu. “Kami berharap kedepannya para pedagang souvenir ini menyajikan produk yang lebih spesifik. Artinya, mengaharah pada potensi dan produk lokal khas Desa Beraban. Bukan menjajakan kerajinan daerah lain, sehingga ada sesuatu yang khas di DTW Tanah Lot ini,” harapnya.

Kalau pun menjual nasi campur, tambah Jero Toni, tetapi ada sesuatu yang khas, sehingga menjadi kelebihan yang harus didapatkan para tamu ketika berkunjungan ke Tanah Lot. Walau itu makanan tradisional, tetapi tetap pula menjamin dari segi kebersihan dan kesehatannya. Kalau sudah bersih, tentu tamu akan sering menikmati makanan di sini. “Sementara ini, produk yang dijual menjadi ciri khas Tanah Lot, hanya klepon saja. Mungkin kedepannya, parta pedagang makanan ini menyajikan menu dengan menggunkan daun pisang, sehingga ada yang khas,” tutupnya serius. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us