“Suklu” Raih Gelar Doktor Gara-gara Kupas Seni Rupa Pertunjukan

“Suklu” Raih Gelar Doktor Gara-gara Kupas Seni Rupa Pertunjukan

Para perupa tak hanya piawai menggores kuas diatas kancas, tetapi lihai juga dalam seni pertunjukan. Dalam menuangkan imajinasinya, para perupa itu tidak saja berceloteh melalui garis-garis dan warna, tetapi juga sering menggugat melalui gerak yang penuh simbol. Bahkan, antara seni rupa dan seni gerak yang disajikan itu menjadi satu kesatuan, bahkan saling mendukung. Ungkapan perupa dalam seni rupa pertunjukan itu memang marak belakangan ini, namun selalu menarik untuk dinikmati.

Fenomena seni rupa pertunjukan yang marak terjadi belakangan itu dikaji dan diteliti oleh perupa I Wayan Sujana ‘’Suklu’’. Karya itu berjudul “Mobile Art Laboratory (MAL) Ruang Alternatif Olah Seni Rupa Pertunjukan Berbasis Masyarakat”. Dengan karya itu, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu melakukan kajian dan penelitian penciptaan seni, yakni karya seni yang dapat mendekatkan seni rupa pertunjukan kontemporer antara seniman dan masyarakat.

Jalan keluar yang ditemukannya, adalah karya seni mendekati masyarakat, menciptakan peristiwa seni, serta masyarakat dan seniman berbaur menciptakan artepak seni. Maka, dengan karya itulah mengantarkan Suklu meraih gelar Doktor pada Program Pascasarjana ISI Denpasar, dalam prosesi ujian hasil penelitian disertasi atau ujian terbuka, di Gedung Studio Rekam Prodi TV dan Film ISI Denpasar, Selasa (16/11). Saat itu, sebagai promotornya, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn., Co-promotor 1 Prof. Dr. I Wayan Dibia, S.S.T, M.A. dan Co-promotor 2, Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

Teori, konsep, pendekatan dan beberapa pustaka dibaca Suklu dalam rangka menemukan originalitas hasil penelitian itu. Teori-teori yang relevan sebagai kaji banding dalam penelitian, pihaknya merujuk pada teori-teori para penulis terkenal. Selain itu, penelusuran penelitian disertasi yang sudah dilakukan peneliti lain melalui kajian pustaka. “Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan penelitian yang original menghidari plagiatisme,” kata Suklu.

Setelah melalukan serangkaian penyusunan, Suklu menyusun metode tahapan penciptaan (pemikiran) yang disusun menjadi huruf MAL yakni; M-Making art blueprint of contemporary performance art based on community (membuat cetak biru seni rupa pertunjukan kontemporer berbasis masyarakat), A-Accomplish singularity contemporary performance art based on community with deep spirituality (menyelesaikan karya seni rupa pertunjukan kontemporer unik berbasis masyarakat melalui spiritualitas yang dalam), L-Longitude and latitude make transfer point of deep feeling throughout presentation (garis bujur/horizontal dan garis lintang/vertikal membuat titik transfer rasa terdalam melalui presentasi).

Melalui penyusunan metode tahapan penciptaan MAL dan penciptaan MAL, kurun waktu dua tahun (2019-2021) MAL telah melakukan penjelajahan ke masyarakat di antaranya; Sawe Jembrana, Balai Kebudayaan Buleleng, Lapangan Umum Klungkung, ISI Denpasar, ARMA Ubud, Art Bali Nusa Dua, Titik Dua Ubud, Santrian Sanur, JKP Denpasar, dan Komaneka Ubud. Sebagian mengasilkan desain pertunjukan, sebagian lagi desain pertunjukan dan implementasi. Komaneka Ubud sebagai tempat implementasi ujian Tugas Akhir berlangsung dari 30 Juli – 6 September 2021. Saat itu, “Monument of Trajectory” menjadi judul seni rupa pertunjukan, schadule kegiatan berupa; sharing, workshop, perfomance. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us