“Tadah Asih” Menjaga Ekosistim, Menatap Diri dan Mulat Sarira

“Tadah Asih” Menjaga Ekosistim, Menatap Diri dan Mulat Sarira

Tadah Asih merupakan judul Adilango (pergelaran) Tari Kontemporer yang disajikan Yayasan Bumi Bajra Sandhi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III di Gedung Ksirarnawa Art Center, Taman Budaya Denpasar Provinsi Bali Rabu (27/10). Sejak pementasan itu dimulai, penonton yang telah menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) hampir tak bisa melihat kekurangan dari sajian seni terkini itu. Para penari sangat kuat dengan olah tubuh yang terlatih membeberkan tema. Penari yak hanya mengolah gerak tubuh, tetapi juga olah vokal melalui tembang serta terampil memainkan alat music.

Garapan tari itu menekankan pada pentingnya ekosistem agar tidak terputus dengan mengangkat Burung Tadah Asih, Kedasih atau sering juga disebut Engkik Engkik Engkir mengikuti suaranya. Mesti mengangkat kisah burung (hewan), namun dalam garapan itu juga menggambarkan berbagai tumbuhan dan manusia sebagai sebuah ekositen. Penari dengan olahan tubuh yang lentur terkadang berfungsi sebagi tumbuhan, terkadang pula burung, hewan pernghuni hutan. Namun, tiba-tiba menjadi manusi yang digambarkan lewat tari panji (pegambuhan) yang kental.

Ida Wayan Arya Satyani yang akrab disapa Dayu Ani memiliki pertimbangan dalam mengangkat Burung Tadah Asih itu. Burung itu, memiliki banyak mithologi. Salah satu yang psling terkenal adalah tentang kematian. Tadah Asih sebagai seorang ibu menatap kematian dengan gagah. Sebab, setelah melahirkan anaknya ia aka mati. Mitos lain, dengan suaranya yang khas itu dipercaya akan ada kematian. Ada juga yang mempercayai itu sebagai jelmaan jin, serta di daerah Kesiman masyarakat percaya suara burung tadah asih itu sebagai petanda kedasa untuk menggelar sebuah upacara. Memang, secara ekositem, burung itu bermigrasi mengikuti hujan.

Kalau dikaitkan dengan “Wana Kerthi”, ekologi dan ekositem itu didalamnya tak hanya ada hutan, tetapi juga ada kehidupan, salah satnya burung. Kalau burung ini ditakuti karena kalau bersuara sebagai pertanda kematian, maka kalau burung itu tak bersuarapun juga sebagai petanda kematian ekositem, kematian burung tadah asih itu. “Artinya, kita harus mengalami ekositem itu sehingga kehidupan seimbang. Perlu diingat, mitos-mitos itu kemungkinan untuk menjaga kehidupan burung itu sendiri. Karena kalau akan beranak, burung itu hanya satu. Secara biologi burung itu tak mampu membangun sarang, sehingga selalu menitip pada burung lain,” ucap Dayu Ani.

Kalau dari kontek ke manusia, si masa pandemi ini orang menghadapi kematian hanya sebatas angka-angka, apakah masih memiliki empati, mempunya kasih sayang. Lama-lama tak ada rasa. Kematian itu hanya statistic, namun rasa itu menjadi ilang. Garapan tari ini, seakan m untuk menumbuhkan rasa empati itu kembali. Tadah asih itu berasal dari kata tadah yang artinya penampung kasih.

Struktur karya tari ini sangat simple, sederhana namun kuat dan berisi. Tari ini diawali dari narasi yang didalamnya dipadu dengan puisi. Keduanya ini disajikan untuk membangun kesadaran manusia. Sedih baru ingat dengan Tuhan. Disitu ada kepekaan kasih terhadap mahluk hidup burung yang terbang untuk mencari makan untuk anak-anaknya, sehingga menjaga ekosirem itu penting.

Duet penari laki dan perempuan itu bisa mengisahkan kehidupan burung dan manusia. Jiwa atau siapaun itu, intinya ada dualisme yang tak pernah selesai. Terkadang menjadi burung, terkadang menjadi manusia sebagai simbol ekositem yang tak pernah putus. Karya tari ini menggunkan property kaca sebagai symbol bercermin, menatap diri dan mulat sarira. Selain itu, para penari juga memaionkan sinar center ke wajah dan perut (ngunying) untuki mengajak setiap orang untuk mengoreksi diri.

Di dalam garapan itu muncul garak tari pepanjian dalam dramatari gambuh. Memang, dalam setiap garapan Dayu Ani sempat saja memasukan nuansa tari gambuh yang sedang senang-senangnya menggali pegambuhan, sehingga ada karakter pepanjian muncul dalam garapan itu. Panji sebagai simbol manusia, sehingga dalam ekosistem itu ada tumbuhan, binatang dan manusia. Disamping menampilakn tembang-tembang, karya tari ini menjadi sangat kuat karena diiringi iringan gamelan minimalis oleh Gusde Widnyana.

Warih Wisatsana selaku Kurator mengatakan, Dayu Ani sudah mempunyai stailistik dan pencapaian estitik tersendiri, sehingga semua tubuh para penari sudah terolah secara utuh tampil dalam keseluruhannya. Secara keseluruhannya penampilan mengilhami renungan, membuat sudut pandang menarik dari sekor burung. Maka tarian secara keselutrusahan itu bersifat metaforis, dia bukan tarian yang menjadikan tubuh sebagai tubuh harviah yang hadir di panggung, tetapi tubuh metaforis yang simbolis. Kekhasannya tembang-tembang, dan dengan musik minilalis yang sanngat kuat embuat garapan tari ini menjadi sangat menarik. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us