Telaga Sampireun, Restoran Berkonsep Alam dengan Citarasa Nusantara

Telaga Sampireun, Restoran Berkonsep Alam dengan Citarasa Nusantara

Wisatawan khususnya penghobi kuliner, kini bertambah lagi pilihan untuk menikmati menu-menu saat liburan di Pulau Dewata. Tempat makan itu bernama Talaga Sampireun yang beralamat di Jalan Kediri, Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, tepatnya di Jl. Kediri, Tuban, Kec. Kuta, Bali. Lokasi sangat dekat dengan Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, Bali, yakni sekitar 8 menit.

Talaga Sampireun Bali ini merupakan outlet restoran ke-9, dan outlet pertama di luar Jabodetabek. Talaga Sampireun Bali menawarkan pengalaman kuliner Indonesia dengan perpaduan suasana tradisional dan sentuhan kontemporer yang kekinian. “Talaga Sampireun berasal dari bahasa Sunda yang berarti rumah singgah, tempat yang nyaman dengan keunikan nuansa arsitekturnya yang dibangun dengan ciri khas bangunan Saung,” kata Direktur Talaga Sampireun Bali, Kalvin Lie pada upacara pembukaannya, Rabu (6/12).

Selain menikmati beraneka menu enak, makan di sini menawarkan suasana yang damai. Para tamu dapat mendengar desir angin dan gemericik air yang menenangkan jiwa. “Bali menjadi pilihan paling tepat buat ekspansi kami di luar Jabodetabek. Sebagai salah satu destinasi wisata utama turis domestik dan mancanegara, kami melihat di Bali belum banyak tempat yang menawarkan keragaraman kuliner Nusantara dengan suasana dan pengalaman, seperti dihadirkan Talaga Sampireun,” ungkap Kalvin bersemangat.

Talaga Sampireun ingin memberikan pilihan kuliner dan dining experience dari seluruh Nusantara kepada para pengunjung yang belum sempat mengunjungi wilayah Indonesia lainnya. Outlet baru ini sebagai bentuk komitmen untuk terus melestarikan makanan khas Indonesia yang tercermin dari sumber bahan masakan yang disediakan untuk para pelanggan dan pencinta kuliner. “Diusianya yang ke 13 tahun ini, Talaga Sampireun sudah memiliki 8 outlet yakni di Bintaro, Ancol, Puri Kembangan, Vimala Hills Bogor, Cikarang, Depok, Bekasi dan Menteng Jakarta,” ujarnya senang.

Talaga Sampireun Bali menawarkan ragam kreasi kuliner Nusantara, seperti Gurame Terbang, Udang Bakar Madu, Udang Api Goreng, Cumi Goreng Madu Kering, Sate Ayam Kacang, Patin Bakar Bambu dan Sop Iga Garang Asem yang telah menjadi favorit pelanggan setia dari Talaga Sampireun selama ini. Sedangkan minumanya, ada Es Jeruk Kunyit Asem, Es Jeruk Kelapa, Tape Goreng dan Bika Panggang. “Ika Gurami sangat disukai para pengunjung karena memiliki tekstur daging yang padat dan digoreng sampai kering dan dalam penyajiannya ditemani dengan sambal terasi khas Talaga Sampireun,” tambahnya.

Arsitektur Talaga Sampireun Bali tampak unik karena dirancang Kelvin Thengono Design Studio (KTDS). Dengan begitu, dapat menawarkan pengalaman bersantap alam terbuka dengan citra baru kehidupan pedesaan Indonesia dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional Indonesia. Kawasan seluas 10.000m2 diubah menjadi landskap sejuk dan nyaman yang tertata dalam satu struktur luas dan konsep open space lengkap dengan ruangan makan utama, ruang makan VIP, ruang esklusif, saung, dapur, taman bermain dan danau buatan.

Outlet Talaga Sampireun Bali juga dibangun untuk mendinginkan dan menyejukkan area Talaga Sampireun. Dikelilingi oleh 19 Saung (15 Saung Single dan 4 Saung Double) makan terapung yang disebut saung (pondok Sunda, biasanya dibangun sebagai tempat peristirahatan para petani setempat), danau menjadi daya tarik utama saat bersantap sambil menenangkan jiwa. Talaga Sampireun Bali dibuka setiap hari mulai pukul 10 pagi hingga 10 malam dan dapat mengakomodir hingga 412 orang. “Talaga Sampireun Bali menyasar beragam jenis pelanggan dari wisatawan hingga masyarakat lokal,” sebutnya.

Semua bangunan di Talaga Sampireun Bali, dirancang untuk memungkinkan ventilasi silang yang membuat sirkulasi udara mengalir dengan alami. Bentangan atap yang luas, terinspirasi dari bentuk daun pohon pisang, menaungi ruangan dari panas dan hujan lebat tropis. Sementara, paduan nuansa kayu, banyak digunakan sebagai struktur, lantai, dan dinding saung. “Kami mencoba memberikan lebih dari sekedar pendekatan berkelanjutan, tetapi juga nilai budaya,” tutup Kalvin. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us