Tips Sukses Bidang Art and Fashion Bersama Pontil Vonzealous

Tips Sukses Bidang Art and Fashion Bersama Pontil Vonzealous

Denpasar Festival (Denfest) ke-13 Tahun 2020 kembali hadir dengan beragam kegiatan. Melalui kegiatan bertajuk Art and Creative Talk menghadirkan narasumber dibidangnya. Kali ini turut hadir sosok Founder, Owner dan Head Creative Voordurend Love Company, Pontil Vonzealous pada gelaran Denfest ke-13 Virtual, Kamis (10/12). Saat itu Pontil Vonzealous berbagi pengalaman bergerak di dunia art and fashion. Berbagai perjalanan karis hingga menghadapi pandemi Covid-19 saat ini turut dipaparkan.

Pandemi yang mewabah saat ini harus disyukuri sebagai anugrah. Hal ini tentu diluar hal negatif atau dampak buruk yang ditimbulkan. Pandemi yang mewabah saat ini membuat pria yang lahir di keluarga seni ini menjadi lebih sibuk. Sebelumnya segala sesuatu tentang produk dianggap sudah benar, namun saat pandemi semua insan dipaksa untuk berfikir bahwa tidak ada sesuatu yang benar, melainkan harus terus dimaksimalkan. “Misalnya di Clothing mungkin kita bisa mengatakan bahwa kita sudah benar membuat prodak seperti ini, namun setelah jadi kita menjualnya susah,” jelasnya.

Saat awal pandemi mewabah di kisaran bulan Maret, penetapan status zona merah berdampak pada wilayah bisnis. Dimana akhirnya diputuskan untuk merambah pasar online yang sejatinya tidak terpikirkan sebelumnya. “Ini merupakan momen yang pas, bayangkan jika tidak karena pandemi mungkin kita tidak akan menerapkan sistem online tersebut,” ujarnya.

Dengan menerapkan sistem pemasaran online, justru respon sangat banyak, dimana daya beli masyarakat terhadap produk yang diproduksi sejak Bulan April bagus, Mei bagus dan Juni bagus. Nemun demikian di Bulan Juli mulai terjadi penurunan. “Jadi anugrahnya disini, kami bisa keluar dari zona nyaman dan terus berinovasi,” paparnya.

Pontil turut menceritakan pengalamanya, dimana dari kecil tumbuh di keluarga seni, dimana ayah seorang peelukis dan ibu seorang penari. Sebagai anak terkecil melihat seni itu menjadi suasana rutin setiap hari. Sedangkan fashion timbul karena keinginan pribadi untuk terlihat berbeda. Saat ini semenjak pandemi melanda beberapa hal baru turut saya kerjakan. Dimana, dahuulu saya disibukkan dengan desain produk, saat ini saya merambah seni grafik desain dan marketing. “Saya mulai mendesain sejak SD, saya sudah mendesain baju, yang awalnya digunakan untuk baju kelas,” paparnya

Pontil turut berpesan bahwa sebagai insan kreatif intinya adalah bagaimana mampu tampil beda dari yang lain. Pihaknya juga bercerita perjalanan awal mula berdirinya Voorduren yang kuncinya adalah tampil beda. Dimana, saat kuliah banyak melihat keseharian masyarakat yang tidak sesuai terhadap fashion di Bali. Dimana keberadaan dan eksistensi brand lokal dan pasar kodok kenyataannya belum bisa memfasilitasi ide dan harapan, maka diputuskan untuk membuat brand sendiri. “Sampai saat ini brand kita dikenal dengan karya yang full frame, inilah ciri khas dan bagaimana caranya agar pasar mau dan tertarik dengan produk kita,” jelasnya

Pontil juga mengtakan bahwa tantangan sebagai pelaku usaha fashion atau distro di Bali adalah bagaimana mempertahankan posisi ketika sedang diatas. Dimana, pada tahun 2010 produk dari Voordurend Love Company sangat booming. Bahkan, menjadi satu-satunya brand disebuah toko yang barangnya laku semua. “Namun itulah bisnis, pasang surut akan selalu ada, jangan pernah berhenti berfikir untuk berinovasi, kapan pun dan dalam posisi apapun,” jelasnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us