“Tribute To Sura” Harmonisasi Guru dengan Murid

“Tribute To Sura” Harmonisasi Guru dengan Murid

Kreatif dan sarat pesan. “The Lost Of Equilibrium” sebuah pementasan tari kontemporer dalam ajang Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar Provinsi Bali, Minggu (24/10) sungguh mempesona. Sebuah tematik mengenang sosok seorang guru sekaligus memberi penyadaran arti dari makna keseimbangan dalam garapan tari kontemporer tersaji dengan apik. Garapan yang didukung Sanggar Seni Sura Pradnya Tampaksiring itu disajkikan untuk mengenang almarhum I Nyoman Sura, sosok yang menjadi guru dan panutan seni tari kontemporer di Bali.

Pementasan “The Lost Of Equilibrium” yang artinya kehilangan keseimbangan, sebagai bentuk penyadaran akan pentingnya menjaga satu sama lain, baik harmonisasi pada Tuhan, manusia dan juga alam. Garapan seni ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal opening menggambarkan kenangan Alm I Nyoman Sura semasa hidupnya yang memberikan seluruh jiwa dan raga pada pengabdian dirinya terhadap kesenian.

Bagian isi, menggambarkan kehilangan sosok guru yang menjadi motivasi, mewujudkan Komunitas Sura Pradnya menjadi dedikasi untuk tetap membawa spirit seorang I Nyoman Sura dalam setiap derap Langkah dalam mengabdikan diri pada dunia kesenian khususnya seni pertunjukan Kontemporer. Pada bagian akhir, menggambarkan kehilangan keseimbangan menjadikan penyadaran diri akan keharmonisan. Harmonisasi diri dan alam sebagai simbolisasi dari perputaran keseimbangan atau kehidupan.

Karya ini melibatkan lebih dari 30 penari baik anak-anak, remaja maupun penari dewasa, serta 20 tim produksi yang terlibat dalam penampilan ini. Khusus untuk music digarap I Wayan Rakananda Saputra, seorang penghobi compose musik sintaiser asal Tabanan yang sedang kuliah di Texas Amerika mengambil jurusan perminyakan. Demikian pula mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang suka menari.

Garapan ini juga melibatkan koreografer muda, seperti Agus Adi Yustika, I Komang Adi Pranata dan IB. Putu Dharmayasa. Menghadirkan perupa Suklu untuk merespon instalasi, dan mempercayakan Show Director, lighting n Efeck kepada BTS Crew, Narator atu Puisi diisi oleh Moch Satrio Welang dan komposer I Wayan Rakananda Saputra, Wahyu Etnika dan I Wayan Supertama Yasa.

Konseptor, I Ketut Gede Agus Adi Saputra mengatakan, melalui karya seni ini, dirinya ingin mengenang dedikasi seorang I Nyoman Sura yang sangat dirasakan pengaruh dan kiprahnya terhadap dunia seni tari kontemporer Bali, Indonesia bahkan belahan dunia lainnya. Berpijak dari ide tersebut, maka garapan ini mengangkat keharmonisan hubungan antara murid dan guru yang mampu melahirkan karya-karya baru. Namun, tetap menjaga spirit penciptaan dan kebermanfaatan ilmu serta implementasinya kepada banyak orang, seperti spirit alam dan bumi yang memberi tanpa berharap, namun diperlukan sebuah kesadaran dan penyadaran untuk menjaga keseimbangannya.

Pria yang akrab disapa Adi Siput itu menceritakan, pada masa tahun 2000-2013, Dedikasi seorang I Nyoman Sura sangat dirasakan pengaruh dan kiprahnya. Di sisi lain, Sura juga memiliki cita-cita untuk mendirikan sebuah komunitas. Pemantik ini penting untuk tetap dijaga. Karena itu, konsep garapan menampilkan Profile I Nyoman Sura sebagai tokoh seni Tari Kontemporer yang disajikan ke dalam bentuk berbagai media ungkap, seperti audio visual, rekonstruksi karya tarinya juga pembaharuan karya yang disajikan oleh beberapa murid dan tim Komunitas Seni Sanggar Seni Sura Pradnya. “Kami berharap, gagasan karya ini dapat memberikan pemantik dalam berkesenian bagi masyarakat luas, khususnya pada seni Tari Kontemporer,” ujarnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us