“Tutur Korawisrama” Angkat Kelahiran Taru Pule, Kepah, Kepuh dan Beringin

“Tutur Korawisrama” Angkat Kelahiran Taru Pule, Kepah, Kepuh dan Beringin

Membaca atau mendengar cerita awal munculnya taru (pohon) Pule, Kepah, Kepuh dan Beringin itu mungkin biasa, tetapi bagaimana kalau kelahiran tari itu dikemas dalam sebuah seni pertunjukan. Wah, pasti sangat menarik. Itu benar, Sanggar Seni Pancer Langiit Art Production menyajikan sesolahan sastra yang mengupas kelahiran Pohon Pule, Kepah, Kepuh dan Beringin dengan mengangkat judul “Tutur Korawisrama”. Karya ini disajikan dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2021 melalui Chanel YouTobe Dinas Kebudayaan Provinsi Bali sejak, Sabtu, 13 Pebruari 2021.

Garapan dibawah asuhan Art Director Dr. Anak Agung Gede Agung Rahma Putra, S.Sn.M.Sn itu tampil padu dalam teknik virtual yaitu unsur tari dan teater serta musik dengan teknik videografi. Perpaduan tersebut menjadkan garapan ini sangat menarik, sehingga enak ditonton.
“Garapan ini sarat pesan, yaitu upaya kita dalam menjaga kelestarian alam salah satunya adalah menjaga tumbuhan sebagai sumber oksigen. Melalui garapan seni, kami berharap pecinta seni, masyarakat untuk bersama-sama memperhatikan lingkungan kita,” ucap Agung Rahma Putra yang juga dosen tari itu.

Pementasan berdurasi 33 menit itu, menampilkan backsound merupakan epic ethnik kolaborasi. Selain itu menggabungkan unsur tari dan teater juga dipadukan dengan musik dan teknik videografi menjadi keunggulan daripada karyua ini. “Jumlah penari 13 dalam frame, sedangkan penabuh menggunakan iringan musik midi,” ungkap Gung De Rahma demikian akrab disapanya.

Sajian seni ini sungguh menarik dan apik. Kisah dipaparkan lewat ekspresi gerak yang masih bernuansa tradisional Bali, namun dikemas baru. Pembabakkannya sangat detail, alurnya mengalir. Pesan yang ingin disampaikan begitu kuat, yakni tetap menjaga kelestarian alam salah satunya adalah menjaga tumbuhan sebagai sumber oksigen.

Adapun kisahnya, berawal dari keinginan Dewa Siwa untuk menguji kesetiaan Dewi Uma. Dewa Siwa kemudian mengutus Dewi Uma, istrinya untuk turun ke dunia mencari susu lembu yang akan digunakan untuk mengobati sakitnya. Dewi Uma mendapatkan susu tersebut, namun dengan cara yang tidak benar. Karena itulah yang menyebabkan Dewa Siwa mengutuk Dewi Uma menjadi sangat menyeramkan dengan nama Durga Bhairawi.

Setelah sekian lama, Dewi Uma menjalani kutukan menjadi durga bhairawi, menyebabkan rasa rindu kepada Dewa Siwa, sehingga membuatnya turun ke dunia dan berubah wujud menjadi Kala Bhairawa. Pada saat Dewa Siwa dan Dewi Uma dalam wujud Kala Bairawa dan Durga Bhairawi lalu mereka bersenggama. Dari tetesan sperma beliau, lalu muncullah Taru (pohon) Pule, Kepah, Kepuh dan Beringin.

Garapan ini musik dan teknik videografi dipercayakan kepada Eka Sem dan didukung oleh seniman-seniman handal, menghasilkan tontonan menarik secara visual. Gerak tari, ekspresi para pemain, sangat hidup, dan pesan yang ingin disampaikan sampai kepada penikmat.
Selain itu, suguhan seni ini juga didukung tata kostum yang pas, sehingga karakter masing-masing pemain menjadi lebih kuat. Suasananya juga sangat mendukung karena menggunakan iringan musik midi yang digarap oleh komposer I Wayan Ary Wijaya Palawara, S.Sn. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us