Work From Bali Jangan Hanya di Nusa Dua

Work From Bali Jangan Hanya di Nusa Dua

Work From Bali (WFB) akan diluncurkan pada Juli 2021 secara bertahap. Program pemerintah ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali. Hanya saja, kawasan The Nusa Dua yang dijadikan sebagai percontohan pelaksanaan WFB tersebut. Kawasan The Nusa Dua dianggap sebagai tempat yang cocok untuk bekerja jarak jauh, karena memiliki manajemen tunggal, sehingga pengendalian dan pengawasan akan lebih mudah dilaksanakan. Lalu, bagaimana dengan nasib kawasan Sanur dan Ubud yang sudah ditetapkan sebagai kawasan zona hijau, atau kawasan lain yang sudah mengantongi sertifikat CHSE sebagi bukti penerapan prokes secara ketat.

Ketua DPD Masata Bali, I Made Ramia Adnyana mengatakan, terkait dengan WFB merupakan program yang sangat tepat untuk memulihkan parwisata Bali. Karena itu, program WFB mesti segera direalisasikan, dan jangan ditunda lagi. Bila perlu kawasan yang menjadi pusat WFB jangan hanya di The Nusa Dua, tetapi juga di kawasan zona hijau, seperti Sanur dan Ubud, bahkan juga kawasan laian. “Semua kawasan pariwisata sudah divaksin warganya, terutama Kuta, Seminyak, Legian dan kawasan lainnya di luar Sarbagita, seperti Candidasa, Lovina, Kintamani, Amed, Pemuteran dan kawasan lainnya,” ucapnya.

Hal ini penting menjadi pertimbangan tegas Ramia Adnyana. Sebab, WFB bukan satu satunya program yang dilakukan oleh pemerintah pusat, tetapi ada pula program Work From Lombok, Work From Sumbawa dan lain-lainnya. Maka itu, fokus untuk menggeliatkan ekonomi Bali yang terkoreksi 9,85% itu akan agak susah tercapai dengan WFB ini. “Satu-satunya solusi adalah open border segera dilakukan. Tanpa open border, akan cukup berat untuk memulihkan ekonomi Bali seperti semula,” katanya serius.

Wakil Ketua PHRI Buleleng Bidang Promosi, Dwi Dharmawijaya menyebutkan, WFB yang ditetepkan di satu kawasan rasanya kurang afdol. Sebab, pariwisata Bali itu bukan hanya di Nusa Dua, Sanur, dan Ubud, melainkan semua daerah di Pulau Dewata. “Kami berharap program WFB bisa dilakukan di semua daerah di Bali, termasuk di Buleleng, sehingga ada pemerataan kunjungan wisatawan domestik. Hotel-hotel yang ada
sudah melakukan protokol kesehatan yang ketat sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah. Bahkan, sudah terverifikasi dan telah mendapatkan sertifikat CHSE dari Kementrian Pariwisata,” ungkapnya.

Disampiung itu, warga yang ada di kawasan pariwisata juga sudah mengikuti program vaksinasi, sehingga menciptakan rasa aman. Lagian, wisatawan yang berwisata ke Bali akan merasa bosan bila hanya ada di satu tempat. Biarkan mereka memilih, sehingga masyarakat kecil, seperti UMKM juga kecipratan. “Sekarang kita serahkan keputusan kepada wisatawan itu sendiri untuk memilih kawasan wisata yang mereka akan kunjungi untuk program WFB ini. Saya rasa semua hotel sudah siap untuk menerima tamu WFB dengan menyediakan paket-paket WFB yang sangat menarik. Kami usul, pemerintah perlu membuat program-program lainnya agar pariwisata di Bali khususnya di Buleleng bisa menggeliat seperti dulu,” usul General Manager The Lovina Bali ini.

Hal senada dikatakan CEO Pramana Experience, Sudirga Yusa. Program WFB yang akan digulirkan untuk Bali sebagai salah satu upaya untuk pemulihan iklim pariwisata Bali saat ini. Namun, perlu diperhatikan juga program-program lain untuk jangka panjang dengan cakupan yang lebih luas. Stake holder pariwisata dan pemangku kebijakan penting mengupayaka hal itu. “Saat ini, kita bisa melihat upaya pemulihan yang sudah terjadi di Maladewa (Maldive), Srilanka, dan Thailand. Nah, kita bisa meniru untuk implementasinya di destinasi-destinasi pariwisata nasional, termasuk Bali yang secara branding sudah sangat mendunia,” ucapnya.

Pria yang aktif dalam organisasi pariwisata ini mengusulkan, Bali harus dilihat secara holistik sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Karena, beberapa objek wisata yang ada tersebar di masing-masing kabulaten dan kota. “Saya harap agar program WFB nantinya juga disebarkan ke beberapa destinasi lain diluar Nusa Dua, seperti Sanur, Ubud, Lovina, Candidasa dan kawasan lain di Bali. Saya rasa, untuk kesiapan destinasi di masing-masing pemerintah kabupaten dan kota sudah secara serentak mengikuti program verifikasi atau sertifikasi DNA vaksinasi untuk industri pariwisata,” tutupnya berharap. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us